Gunung Sojol

Gunung Sojol 3025 mdpl merupakan Gunung tertinggi di propinsi Sulawesi
Tengah, Gunung dengan ketinggian mencapai 3025 mdpl (data peta
Bakosurtanal) terletak di Kecamatan Sojol Utara Kabupaten Donggala,
Kecamatan sojol berjarak 190 Km dan memakan waktu perjalanan delapan jam
dari Palu Ibukota Propinsi Sulawesi Tengah. Para pendaki biasanya
memulai pendakian dari salah satu desa di kaki gunung sojol yaitu desa
Siboang, untuk mencapai Desa ini dari kota Palu bisa menggunakan jasa
angkutan umum dari terminal Mamboro palu dengan biaya Rp.100.000.
Seperti umunya pendakian ke Gunung lainnya di Sulawesi Tengah,
pendakian gunung sojol termasuk pendakian berat, hal ini dikarenakan
panjangnya jalur/lintasan pendakian yang disebabkan titik strat
pendakian yang dimulai dari bawah (-50 mdpl), berbeda dengan pendakian
beberapa gunung dijawa yang titik start berkisar 500-100 mdpl.
Selain itu kondisi medan yang sangat alami juga menyulitkan para
pendaki, pendakian ke Sojo bukan sebatas trekking atau hiking saja,
jarangnya pendakian ke gunung ini menyebabkan setiap pendaki harus
membuka/merintis jalur sendiri, termasuk menentukan arah lintasan yang
akan ditempuh, ditambah dengan kondisi hutan tropis yang sangat rapat.
Dengan kondisi medan seperti diatas, kesiapan tim pendakian harus
benar-benar matang, mulai dari perlengkapan navigasi, perbekalan hingga
golok untuk merintis jalur. Beberapa kali pendakian yang dilakukan oleh
beberapa tim pendaki baik dari sulteng maupun dari luar membutuhkan
waktu pendakian berkisar antara 12-20 hari dilapangan. Dengan waktu
tempuh sedemikian lama tentunya beban peralatan dan perbekalan semakin
bertambah.
Untuk menggapai puncak Anda harus melalui perkampungan Suku Pedalaman,
berhati-hatilah apabila berpapasan dengan mereka, terdapat 10 pos menuju
puncak, Gunung Sojol Juga Mempunyai Hutan yang sangat rapat, di
puncaknya terdapat Triangulasi yang terbuat dari beton setinggi 1 M.
“Mau coba naik Sojol, eh? Hati-hati di atas sana ketemu sama orang
Dayak. Salah-salah nanti kena sumpit!!” Gambaran sosok penduduk
pedalaman kawasan Sojol terus menari-nari di benak kami. Sosok bercawat,
bersenjata sumpit panjang dan tombak serta sifat buas yang sering kami
dengar baik sewaktu di Bandung maupun ketika menginjak kota Palu sampai
desa Bonde di kaki gunung Sojol semakin menambah kewaspadaan dan
keingintahuan yang besar untuk mengungkapnya.
“Jea Leang, Mangge!! (Kita kawan)” adalah kalimat yang terpatri di
kepala kami. Bahasa Laoje atau banyak yang menyebutnya sebagai “bahasa
burung” hasil kursus sehari dengan masyarakat Bonde keturunan Laoje
menjadi senjata kami untuk meredam kebuasan suku ter-asing di pedalaman
Sojol.
Fuyul (Gunung) Sojol berada di kawasan pegunungan Ogoamas, termasuk
wilayah Kecamatan Balukang, Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesi
Tengah. Gunung dalam kawasan cagar alam ini terletak di antara sisi
barat timur perairan laut Sulawesi Tengah.
Untuk mendaki Sojol dari sisi pantai barat, yang akan menjadi awal
pendakian ini, ada kendala untuk mendapatkan informasi yang akurat.
Berbeda dengan sisi timur yang dilalui jalur trans Sulawesi.
Karena keterbatasan itulah, 3 orang diutus menjadi tim pendahulu, Galih,
Yudi ‘Pentil’ dan Yayat ‘Kolotok’, untuk mengumpulkan informasi dan
mengurus perijinan sampai ke Bonde, desa di titik awal jalur yang kami
rencanakan. Hampir 2 minggu berselang setelah semua data dan ijin beres,
4 orang berikutnya, Irwanto, Djarot, Ayonk, dan saya, menyusul.
Tiga jam lepas dari Cengkareng, cuaca panas menyengat Bandara Mutiara,
Palu, menyatukan kami bertujuh yang bersiap memulai perjalanan ke titik
awal. Mobil Elf putih meninggalkan terminal Palu, mengangkut 12
penumpang termasuk kami bertujuh plus 1 orang penggiat alam setempat
yang kami ajak bergabung dalam pendakian ini.
Mobil melaju tak mulus menyusur pantai barat Sulawesi Tengah dari Palu.
Beberapa ruas jalan banyak yang rusak membuat pijakan gas tak stabil
ditekan. Beberapa jembatan banyak yang putus. Selain itu, puluhan bahkan
ratusan sapi dengan tenangnya menghalangi jalan aspal, membuat supir
harus sabar menunggu para penguasa jalan pantai barat itu menepi.
Enam jam didekap dalam mobil, akhirnya Bonde, dusun awal, dijelang.
Bonde adalah sebuah dusun yang termasuk wilayah desa Balukang, kecamatan
Dampelas Sojol, kabupaten Donggala. Dusun kecil di tepi bangkalang
(sungai) Silambo itu hanya ditempati beberapa rumah saja. Berbagai suku,
baik pendatang seperti dari Bugis dan Makasar, berbaur dengan
masyarakat asli pedalaman yang sudah berinteraksi.
Matahari mulai redup terbenam di ufuk barat. Rumah panggung yang
disediakan kepala dusun terasa nyaman saat kaki dilonjorkan di atas
rumah panggung. Keramahan Mada, pemilik rumah, serta istri semakin
membuat nyaman hati kami.
Satu hari menjelang pendakian, penentuan titik awal dilakukan untuk
memastikan langkah kami selanjutnya. Kebun coklat dan sungai kami susuri
di tengah terik matahari yang menyengat, membuat kulit terbakar.
Setelah mengecek beberapa posisi, menjelang sore kami sepakat mengenai
titik awal pendakian besok, yaitu awal percabangan Bangkalang Silambo,
dan sebuah rumah di seberangnya akan menjadi start kami mendaki.
Hari masih terlalu pagi bagi penduduk Bonde untuk memulai rutinitasnya
saat kami berkemas mempersiapkan peralatan. Suara berisik yang
ditimbulkan membangunkan pemilik rumah yang akhirnya ikut sibuk
hilir-mudik melihat persiapan kami.
Menjelang pukul delapan Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA), setelah
makan pagi, kami menumpang truk pengangkut pasir sampai tepian sungai.
Kemudian kami lanjutkan dengan jalan kaki, termasuk menyeberang
Bangkalang Silambo, menuju rumah yang telah ditandai kemarin.
Baru saja kami tiba di rumah panggung yang dimaksud, langit tiba-tiba
gelap dan petir menggelegar di atas gunung dan bukit di atas. Rintik
hujan turun, semakin lama semakin deras. Selang beberapa menit setelah
hampir 2 jam hujan mengguyur, warna air sungai berubah coklat dan
semakin pekat serta permukaannya meninggi. Gelegak arus sungai terdengar
keras dan alirannya semakin deras. Beberapa orang petani coklat dan
pembalak hutan yang bersiap pulang tertegun dan mengurungkan niatnya
menyeberang sungai.
Setelah menunggu lama, air tak juga surut. Mereka kembali ke pondok
sementara mereka. Saat kabut terbuka, puncakan-puncakan terlihat jauh di
sana, puncakan yang akan kami jelang selama belasan hari ke depan.
Titik awal
Pagi datang bersama kesibukan persiapan yang dilakukan, di bawah tatapan
keingintahuan penduduk di titik awal. Ransel disetel agar sesuai dengan
punggung. Perbekalan pun diatur seefektif mungkin agar paket sejumlah
60 bungkus untuk 20 hari, seberat lebih dari 250 kg, dapat diangkut ke
depan, aman dan tak cepat rusak. Suhu udara begitu cepat naik, peluh
bercucuran saat langkah maju menerobos kebun coklat.
“Tunggu saja disini, sementara kita cek dulu punggungan di depan,” kata
saya yang bertugas menjadi pembuka jalur bersama Ayonk dan Agus, wakil
dari PA Palu, ketika sampai di sebuah gubuk petani coklat menjelang satu
punggungan. Memang pada bagian bawah, kaki Sojol memiliki tingkat
kesulitan yang tersendiri dengan banyaknya punggungan kecil yang
memiliki alur sendiri-sendiri. Seperti saat kemarin ketika mengecek
titik awal dan mencoba naik salah satu punggungan, ternyata alurnya
banyak menabrak dinding punggungan besar sehingga membentuk tebing dan
jurang.
Takut kejadian kemarin terulang, mengingat beban yang begitu banyak yang
harus diangkut regu pengangkut logistik, saya berinisiatif agar mereka
menunggu. Selang 1 jam kemudian saya kembali. “Ok, punggungannya sudah
benar, langsung aja naik ikuti tanda bacokan tiga sampai pondok di
atas!” kata saya. Ransel-ransel penuh beban di bawah terik suhu udara
membuat sekujur badan basah oleh keringat. Nafas-nafas terdengar berat,
menapak satu demi satu pijakan menanjak.
Suara anjing ramai terdengar saat kami sampai di sebuah pondok pada
sebuah punggungan yang tak terlalu lebar. Biji coklat yang disebar di
tanah untuk dikeringkan menutupi bidang tanah yang harus dilewati.
Sambil uluk salam pada penghuni pondok kami meminta ijin untuk lewat.
Setiba di pondok itu, RPL atau regu pengangkut logistik harus kembali ke
gubuk di bawah untuk kembali mengangkut sisa logistik yang tak bisa
dibawa dalam sekali jalan. Sedangkan saya, Ayonk dan Agus terus maju ke
depan membuka jalur sampai titik akhir yang direncanakan di hari pertama
ini.
Medan yang lebih berat
Lintasan yang dilalui ternyata lebih berat dari lintasan sebelumnya.
Kemiringan jalur bahkan mencapai 70 sampai 80 derajat. Selain kaki,
tangan kami pun harus membantu berpegangan pada akar dan daun di sekitar
lintasan yang dibuat.
Mengingat RPL membawa beban yang berat, kami sebagai RPJ (regu pembuka
jalur) selain menentukan dan membuka lintasan juga membuat pijakan
dengan melobangi tanah. Untung saja lintasan dengan kemiringan curam ini
hanya beberapa puluh meter saja sehingga kami tak terlalu lama
menghabiskan waktu di satu lintasan itu saja.
“Ok, di sini saja kita bermalam! Sepertinya tim di belakang tak akan
bisa jauh dengan jalur seperti ini. Kita pasang flysheet dulu, nanti
kita buka jalur ke depan dan kembali lagi ke sini!” putus saya.
Belum sempat memasang flysheet sebagai tanda berhenti untuk regu di
belakang, hujan turun semakin lama makin deras. Pohon pandan dan rotan
yang rimbun di dekat lokasi tersebut kami gunakan untuk berlindung dari
hujan, dan ternyata efektif, tak mampu ditembus air hujan.
Selang 30 menit kemudian hujan berhenti, flysheet kami pasang bersamaan
dengan datangnya RPL yang basah kuyup. “Di sini kita bermalam,” kata
saya pada 5 rekan yang menjadi RPL. Setelah ransel dikosongkan oleh RPL,
sekitar pukul 14.00 WIT mereka segera turun kembali ke pondok di atas
punggungan untuk mengangkut sisa perbekalan dan perlengkapan. Sementara
saya bertiga melanjutkan ke depan membuka jalur tanpa membawa ransel.
Berbeda dengan vegetasi sebelumnya yang relatif mudah dilalui, lintasan
ke depan ternyata lebih sulit dilalui. Bukan kemiringan medan yang
menjadi kendala, tapi vegetasi semak belukar dengan rotan dan pandan
yang rapat sangat sulit untuk ditembus. Tak terbilang luka-luka di
tangan akibat duri dan sulur rotan serta pandan, seakan menguji
ketabahan tekad kami untuk meneruskan niat mencapai puncaknya.
Dua jam menebas hanya sekitar 300 meter jarak yang bisa kami tembus,
itu pun hanya sebatas ruang yang hanya pas seukuran tubuh kami yang tak
membawa ransel. “Tak apalah, besok kita perbesar jalurnya, biar bisa
dilalui RPL,” pikir kami.
Setengah jam kemudian ketika kembali ke lokasi dimana flysheet
didirikan, ternyata RPL belum seluruhnya berkumpul. “Masih ada satu
bullsack yang belum terangkut. Kolotok sedang mengambilnya,” lapor ‘Mas
Item’, pendaki tertua di pendakian ini.
Menjelang maghrib, Yayat yang dipanggil Kolotok itu dengan tubuh basah
kuyup bergabung kembali. Malam itu, kantuk begitu cepat datang membuai
tidur kami yang sangat lelap. Hhh, sungguh hari yang melelahkan...
Hari kedua pendakian tak berbeda dengan hari pertama. Beban yang masih
sarat, rotan dan pandan masih menjadi kendala ketika harus bergerak
cepat memperpanjang jarak. Kami mengulangi pengalaman sebelumnya saat
bermalam di hari ke dua: udara yang panas dan tidur tanpa tenda. Namun
kini fatal. Kami lupa bahwa kemarin kami belum beradaptasi dengan
aktivitas berat ini sehingga tubuh cepat lelah dan dapat tidur nyenyak
tak merasakan keadaan sekitar.
Di hari ke dua ini kami mendapatkan pelajaran pahit. Saat malam mulai
datang, puluhan bahkan ratusan nyamuk datang menyerbu. Bukan itu saja,
bermacam kutu terasa menggerayang di tubuh kami. Suara dengingan nyamuk
dan garukan di badan harus kami rasakan sepanjang malam. Lotion anti
nyamuk hanya sejenak menghentikan serbuannya karena keringat tubuh di
udara yang panas ini dengan cepat melunturkannya.
Pagi datang, dengan malas kami hadapi. Kurang tidur semalam sangat
terasa di pagi ini. “Kenapa mata lu bengkak, Tok,” tanya Djarot pada
Kolotok. “Kena nyamuk, euy!” jawab Kolotok dengan lesu.
Rupanya tadi malam untuk menghindari serbuan nyamuk, Kolotok dapat ide
menutup seluruh tubuhnya dengan sarung dan hanya menyisakan bagian
matanya yang terbuka. Sadisnya, nyamuk Sojol ternyata tak pilih-pilih
tempat. Ketika seluruh tubuhnya terbungkus sarung dan hanya bagian mata
itu saja yang terbuka, bagian itulah yang diserangnya. Lumayan,
‘penderitaan’ Kolotok cukup menyegarkan suasana pagi yang muram ini.
“Uff, apa ini?” Ayonk memeriksa bagian tubuhnya. Sebentuk kecil kutu
tengah mencari bagian tubuhnya untuk digigit. “Gila, ini sih kutu
babi!!” Kekhawatiran kami ketika melintasi banyak kubangan-kubangan babi
di sepanjang lintasan ternyata terbukti.
Hari-hari pendakian setelah hari ketiga, selain masih terdengar suara
chainsaw di lembahan, kutu babi dan pacet menjadi menu rutin pemeriksaan
badan di sela-sela istirahat.
Ketika hujan datang, di siang hari saat sampai di kemah I, kami mandi
sepuas-puasnya membersihkan badan. Tak kami hiraukan lagi waktu tersisa
untuk menambah jarak. Tenda berdiri di hari ke tiga ini, tak rela lagi
kami berbagi darah dengan nyamuk dan kutu. Malam itu dengingan nyamuk
hanya mampu berputar di sekitar tenda. “Rasain, Lu!!”
Puncak 1229
“Tadi kita sudah sampai di atas puncakan, sepertinya itu puncak 1229!!”
laporan pembuka jalur, Ayonk, Kolotok, Djarot dan Agus. “Orientasi
tidak?” tanya saya. “Nggak bisa, tertutup kabut,” jawab Kolotok. “Ok,
besok kita bergerak bersamasama. Semua beban kita bagi rata,
masing-masing 2 paket,” putus saya di hari ke 8 itu.
Belum jam delapan kami berdelapan sudah siap dengan ransel di punggung.
Turunan dan tanjakan terasa menguras tenaga. Dan yang paling mengesalkan
adalah rotan dan durinya. Tak terhitung berapa kali kami harus
terjerembap ketika kaki terkait rotan yang menjalar di tanah, atau
terjengkang ke belakang ketika sulur rotan berduri mengait ransel, saat
berusaha maju. “Mana puncaknya, Tok ?”
“Eh, ternyata salah euy, puncak 1229 masih di depan,” jawabnya sambil
cengengesan. Yah, kesalahan yang cukup bisa kami terima akibat kabut dan
kanopi yang lebat menyulitkan untuk orientasi.
“Okelah dirikan saja kemah di sini, sementara saya, kolotok dan Djarot
membuka jalur ke depan,” usul saya yang langsung disetujui. Ketika kami
bertiga membuka jalur, seperti biasanya rotan dan pandan mendominasi
vegetasi yang harus kami tembus. Namun kali ini rotan yang kami hadapi
lebih besar dari rotan sebelumnya, bahkan ada rotan yang memiliki
diameter 20 sampai 30 centimeter, tentunya dengan duri yang lebih besar.
Belum lagi pacetnya, juga terasa lebih banyak dibandingkan sebelumnya.
Tiga jam kemudian kami bertiga bergabung di kemah yang kami dirikan.
“Jalur sudah kita temukan, kita pindah punggungan ke kiri untuk
menghindari kemungkinan ketemu tebing,” kata saya. Memang lintasan
menuju kemah 2 harus lebih hati-hati kami tentukan. Bentukan kontur di
peta 1:50.000 menunjukan ada 2 kontur yang hampir rapat dan biasanya
akan membentuk medan yang curam.
Belum lagi cerita pendakian sebelumnya, mereka naik dari titik awal yang
beda dan bergabung ke jalur yang kami buat dan mereka harus menerima
kegagalan karena terhadang tebing ketika mencoba mencapai kemah 2, kemah
rencana kami. “Besok, saya, Ayonk, Kolotok dan Agus membuka jalur dan
yang lain menyusul kemudian,” hasil briefing malam ke-9 itu menjadi
keputusan untuk pergerakan esok.
Wilayah berburu suku Laoje
Hujan turun dengan deras ketika kami mengawali pagi. Tak terdengar
nyanyian burung yang biasanya mengiringi mentari saat pagi datang. Di
tengah guyuran hujan yang membuat seluruh tubuh dan pakaian basah kuyup,
kami berempat membuka jalur menuju puncakan 1229. Raincoat tak kami
kenakan di medan penuh rotan dan duri ini. Selain tak leluasa untuk
menebas, duri rotan siap mengoyak pakaian antiair itu.
Satu jam setelah makan siang, kami berhasil mencapai punggungan
menjelang puncak 1229 m dpl. Di punggungan itulah kami dirikan kemah,
sementara saya berempat terus membuka jalur sampai kemah 2 tanpa ransel.
Medan yang dilalui memang cukup curam, untungnya kami tak terlalu banyak
menebas. Sisa-sisa jalur yang dibuat suku pedalaman penghuni Fuyul
Sojol ini masih agak terbuka dan pijakannya lebih padat.
Suku pedalaman? Itu hanya dugaan kami. Hal itu diperkuat dengan
banyaknya bekas-bekas yang kami temukan di sepanjang jalur, seperti
bekas trap (jebakan binatang) dan pondok sementara yang sudah hancur.
Konon, walaupun suku Laoje --suku pedalaman itu-- menempati daerah lebih
ke timur dari jalur yang kami buat, namun daerah lintasan kami termasuk
areal berburu suku tersebut. Beberapa kali kami temukan trap yang masih
aktif, namun beberapa sudah mati bahkan satu trap hanya menyisakan
tulang kaki di ujung talinya. Dugaan kami, anoa serta babirusa yang
terjerat itu tak sempat mereka cek sehingga kedua binatang itu mati
lemas dalam jebakan dalam waktu yang lama.
Kemah 2 di ketinggian 1336 m dpl berhasil kami tembus. Tapi walaupun
kami namakan kemah, tidak kami gunakan untuk bermalam. Kami berempat
kembali turun ke punggungan menjelang 1229 m dpl untuk bermalam.
Ujian Sojol
“Setelah puncak 1336 ini, kita turun 6 kontur. Hati-hati, jalurnya
tipis!”
Penggambaran medan lintasan di peta membuat kami meningkatkan
konsentrasi. Menebas sudah tak lagi selebat sebelumnya. Jalur yang tipis
berbatu serta menurun membuat lintasan yang kami pilih sedikit terbuka.
Kami berpegangan pada akar dan pohon, turunan yang kami waspadai ini
memang sangat curam. Gravitasi bumi begitu terasa apalagi dengan beban
di punggung yang masih sarat. Saat memilih pijakan pun harus hati-hati.
Batuan-batuan di lantai hutan lintasan ini begitu rapuh dan goyang saat
dibebani. Sepertinya kami harus berterimakasih pada akar dan pohon yang
beberapa kali menjadi penyelamat saat kaki kami terpeleset salah memilih
pijakan.
Tiba di dasar turunan, lintasan semakin tipis. Kiri kanan kami kedalaman
cukup mendebarkan, menguji konsentrasi yang tinggi. Panjang lintasan di
dasar turunan ini memang tak terlalu panjang, tapi lintasan tipis
bentukan dari pertemuan awal lembahan ini sangat minim pohon untuk
pegangan.
Alhasil, bukan cuma kaki yang menapak di batuan lintasan tipis selebar
40 sampai 60 centimeter itu, tangan pun ikut pula berpegangan pada batu
yang seharusnya menjadi pijakan. Kadangkala kami maju dengan setengah
membungkuk, atau berlagak seperti pemain sirkus yang sedang meniti tali.
Untunglah lintasan sepanjang kira-kira 100 meter itu bisa kami lewati
sampai akhirnya kami berpegangan pada sebuah batu besar di hadapan kami.
Berakhirkah ujian konsentrasi ini? Ternyata tidak! Batu besar itu
ternyata menghalangi jalur yang seharusnya menjadi lintasan kami. Naik
ke atasnya, terlalu tinggi. Melipir ke sisi kanan batu itu satu-satunya
cara untuk menghindarinya. Tak sejauh lintasan sebelumnya memang, namun
selain badan harus mepet ke badan batu, pijakan kaki bukan lagi tanah
atau batu. Tapi hanya akar-akar pohon yang merambat sementara bagian
bawahnya kosong. Cukup mendebarkan ketika kaki kami menapaknya, akar itu
terasa bergoyang saat dipijak.
Satu-satu kami berhasil melewati lintasan akar sepanjang 10 meter itu
sampai nafas lega menghembus saat kaki kembali memijak tanah. Lintasan
selanjutnya memang masih tipis dan menanjak. Pohon dan akar kembali
membantu tubuh kami saat menambah ketinggian dan berhasil menemukan
daerah yang cukup lebar untuk mendirikan tenda.
Kicau burung saling bersahutan di pagi yang cerah. Sinar matahari
satu-satu berhasil menerobos lebatnya kanopi hutan. Diiringi nyanyian
burung, langkah kembali terayun menembus belukar rotan yang mengisi
ruang-ruang bawah hutan rimba Sojol. Kubangan-kubangan air banyak
ditemukan sepanjang lintasan bekas hujan semalam.
“Ada gubuk di depan!!” Degup jantung sedikit terpacu, terbayang sosok
bercawat dengan sumpit dan tombak yang banyak kami dengar sebelumnya.
“Lea Jeang, mangge!!” kalimat yang paling kami hapal itu kami
kumandangkan seraya mendekati gubuk. Tak terdengar jawaban.
Semakin dekat, gubuk tersebut terlihat sudah cukup lama tak lagi
dipergunakan walaupun beberapa alat masak tradisionil masih tersimpan di
dalamnya. Selain itu, banyak tali plastik seperti tali jebakan yang
sebelumnya kami temui, tergulung diselipkan di dinding gubuk. Satu
jerigen terisi setengah tersimpan di sudut.
“Hmhh, mungkin ini hanya gubuk persinggahan ketika mereka berburu,”
pikir kami. Sedikit meneliti dan memeriksa isi gubuk, banyak sekali
ditemukan tulang belulang babi hutan di sekitar gubuk. Rupanya binatang
ini menjadi makanan mereka. Mirip Obelix dan Asterix orang Galia, canda
kami.
Melewati Kemah 3
Jarak terus kami tambah walau hujan turun dengan deras sejak siang
sampai sore. Suhu yang dingin menusuk di bawah curah hujan, membuat kami
menghentikan langkah untuk membuat perlindungan. Selain itu persediaan
air menipis. Sungguh sayang kalau sampai hujan reda dan kami tak sempat
menampungnya.
Tenda didirikan pada sebuah dataran memanjang. Dengan tubuh setengah
menggigil, kami menampung air hujan ke dalam semua jerigen, botol dan
kantung air. Teh dan kopi panas dengan cepat tersaji, sangat terasa
hangat di perut, apalagi pakaian kami masih basah kuyup.
Hujan reda hampir pukul 7 malam bertepatan dengan sajian makan malam
racikan Galih yang terasa menggairahkan selera. Ditemani api unggun yang
mulai kuat panasnya, di antara jemuran pakaian di sekeliling areal
tenda, satu-satu bintang mulai muncul menambah kenikmatan makan malam
ini.
“Menurut perhitungan sih, Kemah 3 bakal kelewat hari ini. Mudah-mudahan
tekor hari kemarin bisa kebayar sekarang.” Perkiraan kami ini didukung
dengan medan lintasan berupa punggungan lebar. Selain itu rotan sudah
semakin jarang sehingga lintasan yang kami pilih lebih terbuka tak perlu
banyak menebas.
Satu jam berjalan, Kemah 3 berhasil kami lalui. Pada satu pertemuan
punggungan kami sempat mencari dan memperkirakan lintasan yang pernah
dibuat pendaki sebelumnya yang bergabung ke lintasan kami.
Bayangan mengikuti jalur yang sudah ada bekas pendaki sebelumnya akan
memudahkan kami, luluh ketika menghadapi medan sebenarnya. Waktu yang
cukup panjang sejak terakhir pendakian sekitar 3 tahun lalu membuat
belukar kembali menutupnya. Belum lagi robohan pohon banyak menghalangi
lintasan. Tanjakan, turunan tajam dan tipis kembali harus ditempuh.
Bangkalang Balukan yang menjadi patokan (stringline-garis batas) sebelah
utara atau sebelah kiri kami terdengar mengguruh jauh di kedalaman
lembah di bawah sana. Memasuki hutan berlumut tebal, batu-batu yang
banyak mengisi lantai hutan menyulitkan kami mencari tempat untuk
mendirikan tenda di sore hari ke 11 ini.
Kabut perlahan mulai turun, batara kala mulai menyelubungi hari yang
semakin tua. Setelah mencari beberapa kali tempat mendirikan tenda, di
tengah kepungan lumut tebal yang dingin, malam berlalu dalam dengkuran
yang gelisah.
Puncak!!
Pagi yang basah di antara lumut tebal membuat malas untuk keluar tenda.
Tidur yang terganggu gatal di sekujur tubuh akibat kutu babi dan pacet
menjadi penyebab keengganan memulai hari. Tapi apa daya, Sojol masih
merentang jarak di ketinggian sana.
Ransel kembali bertengger dengan angkuhnya di punggung kami. Tanjakan
demi tanjakan di hutan terselimut lumut dan kabut mengantarkan kami di
sore hari ke-12 itu pada tulisan di seng yang dipaku pada sebuah pohon,
“PUNCAK!!”
Namun, kami harus meredam sejenak semangat untuk menggapainya. Malam
yang segera datang menjelang menunda pencapaian puncak. Malam yang
dingin di hutan lumut ditemani bintang bertaburan serta sepotong bulan
di angkasa menghembuskan tiupan angin yang menggigilkan.
Mengikuti tanda jalur berupa pita yang diikat ke batang pohon, lintasan
terasa semakin melipir punggungan. Semakin lama lintasan semakin miring,
tipis dan curam. Sempat kami menjumpai sebuah gua, terlihat dari
jejak-jejak dan bekas yang tertinggal. Dugaan kami, gua itu menjadi
tempat sementara untuk berteduh penghuni asli gunung ini. Melihat jejak
itu pula, kami menduga lintasan ini adalah lintasan penduduk pedalaman
saat berburu.
Pada sebuah dataran agak lebar, sambil mempersiapkan makan siang,
orientasi dilakukan. Ternyata dari hasil orientasi, jalur yang kami
ikuti memutari kaki puncak Sojol dan kami berada hampir di utara puncak
Sojol. Jalur pelipiran ke depan masih terus bermain di kemiringan curam.
Setelah meyakinkan posisi, kami putuskan untuk langsung naik berpatokan
pada sudut kompas 172°. Dengan sudut itu, kami yakin akan langsung
menuju puncak Sojol.
Usai makan siang, rencana dilaksanakan. Jalur yang dipilih adalah sebuah
punggungan lebar sehingga cukup mudah untuk menembusnya. Kabut tebal
turun sangat cepat ketika sampai di dataran sekitar puncak. Pandangan ke
sekitar sangat terbatas baik oleh rapatnya pohon dan kabut yang semakin
tebal dan mulai menurunkan gerimisnya.
Triangulasi
Konon menurut cerita, di puncak Sojol terdapat triangulasi walaupun pada
peta sama sekali tidak digambarkan adanya triangulasi tersebut. Dataran
landai sekitar Sojol akhirnya kami telusuri untuk mencari dan
membuktikan adanya triangulasi itu.
Sayang, gerimis semakin deras sementara kabut bukannya membuka malah
semakin tebal memaksa kami untuk mencari areal untuk bermalam. Petir
menggelegar dibarengi hujan deras berpadu dengan angin menderu membawa
suhu yang terasa lebih dingin dari hari-hari sebelumnya. 6°C, man!!
Hujan pembawa berkah --dengan penuhnya seluruh tempat air-- reda 2 jam
kemudian. Angin dari lembahan terus mendera menambah dingin suhu udara.
Kami yang berteduh di bawah flysheet sambil menahan dingin mulai
bergerak membangun tenda. Angin dari lembahan terus menerjang diiringi
suara yang menyeramkan.
Malam belum lagi menjelang tapi kami lebih nyaman berada di dalam
dekapan kehangatan tenda. Bahkan ajakan makan malam dari tenda sebelah
yang bertugas memasak dengan malas kami tanggapi. Hanya saja
cacing-cacing di perut dengan buas berontak membuat kami keluar tenda
yang langsung disambut suhu yang dingin. Sampai minus derajat sih pasti
tak mungkin, walau hidung kami dengan tak sadar terus mengucurkan
cairan. Tak berminat lagi kami melihat thermometer yang digantung di
luar sana.
Perut terisi, tubuh terasa lebih hangat. Lebih hangat lagi ketika
sleeping bag Eiger —salah satu sponsor pendakian ini— membungkus seluruh
tubuh di dalam tenda. Esok, kami kembali harus mencari dan membuktikan
cerita tentang triangulasi dan memastikan keberadaan kami di puncak
Sojol!!!