Danau Yang Berada Di Sulawesi Tengah

Danau Poso, Danau Berpasir Putih

Danau Poso Sulawesi


Pada umumnya, pasir putih dapat Anda jumpai di tepian pantai. Namun kali ini, Anda bisa menjumpai pasir putih di pinggir sebuah danau. Danau Poso yang terletak di Poso, Sulawesi Tengah ini memiliki pasir putih yang menutupi sebagian besar tepi danau. Pasir putih yang ada di Danau Poso sama dengan pasir putih yang biasa Anda jumpai di pantai-pantai tepi laut. Selain itu, tepian Danau Poso juga diselimuti dengan pasir kuning. Tekstur pasir kuning sama dengan pasir putih, hanya saja berwarna kuning.
Danau Poso SulawesiSebagai danau terbesar ke-3 di Indonesia, Danau Poso memiliki panjang sekitar 32 Km dan lebar sekitar 16 Km. Paintainya terbentang sekitar 127 Km mengelilingi perairan danau ini. Dengan titik terdalam sekitar 510 meter dan kedalaman rata-rata sekitar 195 meter, Danau Poso juga terhitung sebagai salah satu danau paling dalam di Indonesia.

Obyek wisata

Berada di ketinggian sekitar 657 mdpl, Danau Poso memiliki pemandangan yang indah dan menakjubkan. Dengan dikelilingi perbukitan dan area hutan, Anda bisa menikmati pemandangan alami sambil menghirup udara yang sejuk. Dengan pantai pasir putih bersih yang memantulkan cahaya matahari, serta ekosistem danau yang masih terjaga, membuat pemandangan Danau Poso terlihat segar.
Pasir Putih dan Kuning Danau PosoDanau Poso memiliki perairan yang sangat jernih. Walaupun di musim hujan banjir datang dari sungai-sungai yang mengarah ke danau ini, perairan Danau Poso tidak menjadi keruh dan tetap jernih. Di Danau Poso ini Anda bisa menemukan suasana yang tidak jauh berbeda seperti di pantai-pantai tepi laut. Warna air yang hijau bening bagian tepi danau, dan biru laut di bagian tengah danau akan membuat Anda serasa berada di tepi laut yang indah. Jangan lupa untuk membawa baju ganti jika Anda berwisata ke danau ini, karena Anda pasti tertarik untuk berenang di perairan Danau Poso yang bening dan tenang.
Pemandangan Danau Poso SulawesiDi sekitar tepian danau, pada perairan yang dangkal Anda tidak akan menemukan batu karang di dasar perairan. Pasir dua warna yang menutupi pantai danau ini, juga menutupi dasar perairan sampai ke wilayah yang dalam. Sehingga sangat aman bagi Anda untuk bermain-main di perairan dangkal. Kaki Anda tidak akan sakit atau perih karena di dasarnya tidak ada batu karang. Mata Anda juga tidak akan meras perih serta tenggorokan Anda tidak akan sakit, karena air di Danau Poso bukan adalah air tawar, bukan air asin.
Jika Anda ingin berjalan-jalan menyusuri perairan Danau Poso, Anda bisa menyewa perahu motor (ketingting) yang disediakan di sekitar tepi danau. Dengan berkeliling menyusuri danau, Anda akan menemukan pemandangan-pemandangan yang menakjubkan. Anda akan melihat kehidupan keseharian masyarakat setempat,seperti memancing, menjala ikan, atau budidaya ikan di keramba-keramba. Bagi Anda yang hobi memancing, Anda bisa melakukan aktivitas kesukaan Anda tersebut di danau ini. Jika beruntung, Anda akan mendapatkan Ikan Sidat atau Ikan Sogili yang besarnya mencapai 2 meter. Ikan ini adalah ikan endemik Danau Poso, dan merupakan ikan air tawar terbesa di jenisnya.
Pemandangan di sekeliling Danau Poso juga tak kalah menarik. Pegunungan dan hutan yang masih asri mengelilingi danau ini. Sesekali Anda akan melihat beberapa jenis burung terbang melintas, atau berkicau di sekitar rerimbunan hutan.
Tempat Wisata Danau PosoDi beberapa tempat, Anda bisa menjumpai sekumpulan batu-batu besar yang muncul dari dalam danau, seakan seperti sebuah kompleks batu yang terapung. Masyarakat setempat menamai kompleks batu tersebut dengan sebutan Watu Ngonggi dan Watu Asa Mpangasa Angga. Watu Ngonggi adalah sekumpulan batu-batu yang bisa mengeluarkan bunyi jika dipukul. Di sekitar Danau Poso wilayah Desa Tentena, Anda juga bisa menemukan beberapa gua. Gua-gua tersebut cukup dalam, bahkan ada gua yang kedalamannya sampai ke dasar danau.
Di salah satu sisi Danau Poso, Anda bisa mengunjungi Konservasi Anggrek terbesar di Indonesia, yaitu Taman Wisata Alam Bancea. Di taman seluas 5.000 Ha ini, Anda bisa menikmati keindahan bunga anggrek dari berbagai jenis. Salah satunya adalah Anggrek Hitam yang langka. Anda bisa beristirahat sebentar di taman bunga yang berlatar belakang Danau Poso ini, sembari mengabadikan momen dengan berfoto ria.

Lokasi

Danau yang luas dan tenang ini bisa Anda capai lewat Kota Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Akses

Danau Poso relatif mudah dicapai karena berada di dekat Lintas Trans Sulawesi, jalur yang menghubungkan Toraja-Poso-Gorontalo-Manado.
Danau Poso terletak di sekitar 285 Km sebelah tenggara Kota Palu danau Poso dapat dicapai dari Kota Palu dengan menggunakan kendaraan darat atau angkutan umum sekitar 8 jam perjalanan.
Danau Poso juga berada sekitar 56 Km sebelah selatan Kota Poso. Dari Kota Poso, Danau Poso dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan darat atau angkutan umum sekitar 1,5 jam perjalanan.

Harga Tiket

-

Fasilitas dan Akomodasi

Ada beberapa fasilitas yang tersedia di sekitar tempat wisata Danau Poso, seperti Hotel, Wisma, Homestay, dan Rumah Makan. Namun jika Anda ingin bermalam di penginapan yang relatif lebih nyaman, Anda bisa mencarinya di pusat Kota Tentena. Salah satu hotel dekat Danau Poso yaitu yang direkomendasikan Ue Datu Cottages. Tersedia  juga jasa persewaan perahu motor jika Anda berminat menjelajah dan menyusuri perairan Danau Poso.
Indeks istilah umum: danau poso, danau yg ada di sulawesi tengah, danau poso sulawesi tengah.
 
Danau Lindu merupakan danau yang terletak di kecamatan Kulawi, kabupaten Donggala, provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia dan berada di dalam Taman Nasional Lore Lindu.
Wilayah yang sering disebut Dataran Lindu ini dikelilingi oleh punggung pegunungan sehingga sulit untuk dijangkau oleh kendaraan bermotor, memiliki empat desa yaitu desa Puroo, Desa Langko, desa Tomado dan desa Anca. Ke-empat desa ini terletak di tepi danau Lindu yang cukup terkenal keindahannya. Di wilayah yang berpenduduk dengan luas wilayah ini juga terkenal dengan laboratorium untuk pemeriksaan penyakit yang disebabkan oleh sejenis cacing schistosomiasis yang hanya bisa hidup melalui perantaraan sejenis keong endemik yang juga hanya hidup di beberapa tempat di dunia.
Danau Lindu dimasukkan ke dalam kelas danau tektonik yang terbentuk selama era Pliosen setelah bak besar dilokalisasi dari sebuah bagian rangkaian pegunungan. Merupakan danau terbesar kedelapan di Sulawesi dari segi wilayah maksimal permukaannya. Danau ini biasa dikatakan melingkupi sekitar 3.488 ha. Pada ketinggian sekitar 1.000 m danau ini merupakan badan air terbesar ke-dua dari pulau ini (yang lebih kecil, Danau Dano hanya 50 m lebih tinggi).
Daya tarik Hutan Wisata Danau Lindu adalah keindahan panorama pegunungan dan pemandangan danau, khususnya bagi wisatawan pejalan kaki dan pendaki gunung. Danau Lindu terkenal dengan melimpahnya ikan dan merupakan habitat bagi berbagai macam tumbuhan dan hewan yang kini mulai berkurang keanekaragamannya karena menurunnya populasi spesies serta hilangnya beberapa spesies seperti burung tokoku dan tanaman rano.
Lokasi:
Danau Tambing berada dalam wilayah kerja Bidang Pengelolaan Wilayah II Makmur TNLL-Kecamatan Lore Utara. Danau Tambing berjarak sekitar 55 km dan Palu.
Daya Tarik :
Danau Tambing berada pada ketinggian I .700 mdpl dengan danau berawa dan dikelilingi Iingkungan hutan yang masih alami. Keadaan Iingkungan yang sangat tenang menjadikan lokasi ini sebagai lokasi sempurna untuk pengamatan burung dan biasa juga digunakan sebagai lokasi berkemah. Danau Tambing memiliki kedalaman air hingga 10 meter dan memilki beberapa jenis
ikan endemik. Keindahan alami danau ml bisa dinikmati dengan menggunakan perahu kecil (katinting) untuk menyebrangi danau.
Spesies burung yang dapat dijumpai : Pecuk Padi Hitam Sulawesi, Sikatan Dahi Biru, Burung Madu, Sungu Kerdil, Kepodang Sungu Biru, Itik Benjut, Titihan Telaga, Malia.
Aksesbilitas :
Lokasi ini dapat ditempuh dengan mobil atau angkutan umum selama kurang Iebih 2 jam dan kota Palu. Kondisi jalan raya menuju lokasi cukup baik.
Fasilitas :
Jalan setapak, perahu ketinting dan shelter


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Guung Nokilalaki

0
Gunung Nokilalaki 2535 MDPL
Gunung Nokilalaki dengan ketinggian 2535 mdpl, merupakan salah satu tujuan pendakian yang cukup popular di Sulawesi Tengah. Selain jalur pendakian yang baik, keindahan alam dan kekayaan flora fauna di kawasan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan yang menggemari aktifitas alam bebas. Nokilalaki terletak di kecamatan Palolo kabupaten Sigi, atau berada di sebelah timur kota Palu, dapat di capai dengan dengan kendaraan selama 45 menit dari Kota Palu. Gunung ini berada dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu.
Sepanjang jalur pendakian menuju puncaknya anda akan melalui hutan tropis dengan pepohonan yang lebat, sumber air terdapat hampir di sepanjang jalur. Di sepanjang jalur pendakian terdapat tiga lokasi shelter yang bisa digunakan sebagai tempat menginap para pendaki.
Di gunung ini ada beberapa alternatif jalur, namun yang umum digunakan para pendaki adalah jalur pendakian daari desa Tongoa kecamatan Palolo. Dari desa yang berada di ketinggian 200 meter dari permukaan laut inilah pintu masuk yang bagus ke gunung Nokilalaki.
Pendakian kegunung ini memakan waktu 3 hingga 4 hari perjalanan normal dan santai. Kondisi medan juga cukup bervariasi dari landai, menanjak hingga cukup terjal, namun kondisi hutan dan suasana alami akan mengurangi kelelahan anda selama mendaki di gunung ini.
Data-data : Gunung Nokilalaki mempunyai ketinggian 2.535 Mdlp, berada di kec. Palolo, Desa Tongoa, Kab. Sigi Biromaru, Sulawesi Tengah yang berjarak lebih kurang 62 Km dari kota Palu ibu kota Sulawesi Tengah. Flora yang terkenal yaitu Ekualiptus dan Rotan, sedangkan faunanya adalah Anoa, Kupu-kupu, Monyet dan berbagai jenis burung.
Pencapain ke Gunung Nokilalaki :  Dari pelabuhan Pantoloan naek bis menuju terminal Mamboro Palu. Kemudian perjalanan dari terminal Mamboro Palu naek bis lagi ke terminal Petobo (SigiBiromaru), di sini anda dapat menyewa kendaraan seperti mobil, taxi, atau ojek yang akan mengantar anda langsung ke kaki gunung Nokilalaki (Desa Tongoa). Keadaan jalur tiap pos :
KAKI GUNUNG – POS (SALTER) 1:
Jalur menuju pos 1 melalui hutan rapat dengan jalan yang cukup licin karena lumut, di sepanjang jalan terdapat sawah dari warga – warga yang tinggal di sekitar kaki gunung, juga terdengar aliran air yang mengalir, perjalanan ke pos 1 memakan waktu sekitar 1 jam. Keadaan di pos 1 atau salter 1 terdapat sebuah basecamp yang khusus di buat untuk para pendaki yang ingin menginap semalam di pos 1.
KET POS1 :
ketinggian : 322 mdpl
Suhu : 33 sampai 30 derajat celcius
Air : sungai deras. 
POS 1 – POS 2:
Perjalanan ke pos 2 di lalui dengan jalur yang agak sulit karena kurangnya Stringline, tanjakan yang terjal, dan menelusuri sungai kecil sampai sekitar 1500 meter, dari sini mulai menjauhi sungai dengan menerobos hutan. Berjalan melalui sela – sela pohon dan rotan, kemudian tiba di pos 2 dalam waktu 6 – 7 jam. di sini anda dapat menginap semalam jika di perlukan.
KET POS 2 :
Ketinggian : 1852 mdpl
Suhu : 28 sampai 26 derajat celcius / 24 celcius (jika hujan)
Air : sungai kecil (mulai menipis)

POS 2 – POS 3:
Dari pos 2 ke pos 3 memakan waktu sekitar 2 jam. keadaan jalurnya membingungkan karena kurangnya StringLine dan banyak terdapat jalur setapak yang bercabang – cabang. Saran saya jika anda masih pertama kali mendaki gunung ini gunakanlah Gaek (pemandu). Dari Pos 3 jika cuaca cerah kita dapat melihat panorama alam yaitu Danau Lindu yang berada di balik gunung Nokilalaki tepatnya di kecamatan Kulawi Kab. Donggala.
KET POS 3 :
Ketinggian : 2044 mdpl
Suhu : 25 sampai 24 derajat celcius
Air : tidak ada.

POS 3 – PUNCAK:
Dari pos 3 perjalanan ke puncak melalui punggung gunung dan sesekali terdapat tanjakan yang terjal. namun keadaan jalurnya sangat jelas terlihat. Dan sepanjang perjalanan kita dapat mendengar suara – suara Anoa, dan beberapa monyet yang menemani perjalanan. perjalanan di tempuh Selama kurang lebih 3-4 jam sebelum kita menggapai puncak Gunung Nokilalaki. keadaan di puncak gunung sangat lembab dan terdapat sebuah tugu yang menandakan titik tertinggi gunung Nokilalaki.
KET PUNCAK :
Ketinggian : 2535 mdpl
Suhu : 24 sampai 22 derajat celcius
Air : tidak ada

Waktu yang di habiskan dari Puncak ke kaki gunung sekitar 8 jam, dari kaki gunung berjalan kembali ke jalan raya tempat untuk menunggu angkot kembali ke Palu. jika ingin istirahat sejenak di kaki gunung terdapat sebuah warung makan.
ada baiknya sebelum mendaki dan setelah melakukan pendakian melapor pada pos penjaga kehutanan yang berada di kaki gunung.
Perjalanan dari kaki gunung langsung ke palu di tempuh sekitar 2 jam.

NB : 
  • mobil dari desa Tongoa ke Palu agak sulit. sehingga kadang kita harus menginap lagi di kaki gunung sembari tunggu mobil yang lewat.
  • setiap tanggal 17 agustus di adakan upacara pengibaran bendera merah putih di puncak gunung. oleh KPA, MAPALA, dan SISPALA se-sulawesi tengah.
Itulah data yang kami punya tentang Gunung Nokilalaki 2535 mdpl , semoga ada manfaatnya, makasih

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gunung Sojol

Gunung Sojol


Gunung Sojol 3025 mdpl merupakan Gunung tertinggi di propinsi Sulawesi Tengah, Gunung dengan ketinggian mencapai 3025 mdpl (data peta Bakosurtanal) terletak di Kecamatan Sojol Utara Kabupaten Donggala, Kecamatan sojol berjarak 190 Km dan memakan waktu perjalanan delapan jam dari Palu Ibukota Propinsi Sulawesi Tengah. Para pendaki biasanya memulai pendakian dari salah satu desa di kaki gunung sojol yaitu desa Siboang, untuk mencapai Desa ini dari kota Palu bisa menggunakan jasa angkutan umum dari terminal Mamboro palu dengan biaya Rp.100.000. Seperti umunya pendakian ke Gunung lainnya di Sulawesi Tengah, pendakian gunung sojol termasuk pendakian berat, hal ini dikarenakan panjangnya jalur/lintasan pendakian yang disebabkan titik strat pendakian yang dimulai dari bawah (-50 mdpl), berbeda dengan pendakian beberapa gunung dijawa yang titik start berkisar 500-100 mdpl. Selain itu kondisi medan yang sangat alami juga menyulitkan para pendaki, pendakian ke Sojo bukan sebatas trekking atau hiking saja, jarangnya pendakian ke gunung ini menyebabkan setiap pendaki harus membuka/merintis jalur sendiri, termasuk menentukan arah lintasan yang akan ditempuh, ditambah dengan kondisi hutan tropis yang sangat rapat. Dengan kondisi medan seperti diatas, kesiapan tim pendakian harus benar-benar matang, mulai dari perlengkapan navigasi, perbekalan hingga golok untuk merintis jalur. Beberapa kali pendakian yang dilakukan oleh beberapa tim pendaki baik dari sulteng maupun dari luar membutuhkan waktu pendakian berkisar antara 12-20 hari dilapangan. Dengan waktu tempuh sedemikian lama tentunya beban peralatan dan perbekalan semakin bertambah. Untuk menggapai puncak Anda harus melalui perkampungan Suku Pedalaman, berhati-hatilah apabila berpapasan dengan mereka, terdapat 10 pos menuju puncak, Gunung Sojol Juga Mempunyai Hutan yang sangat rapat, di puncaknya terdapat Triangulasi yang terbuat dari beton setinggi 1 M. “Mau coba naik Sojol, eh? Hati-hati di atas sana ketemu sama orang Dayak. Salah-salah nanti kena sumpit!!” Gambaran sosok penduduk pedalaman kawasan Sojol terus menari-nari di benak kami. Sosok bercawat, bersenjata sumpit panjang dan tombak serta sifat buas yang sering kami dengar baik sewaktu di Bandung maupun ketika menginjak kota Palu sampai desa Bonde di kaki gunung Sojol semakin menambah kewaspadaan dan keingintahuan yang besar untuk mengungkapnya. “Jea Leang, Mangge!! (Kita kawan)” adalah kalimat yang terpatri di kepala kami. Bahasa Laoje atau banyak yang menyebutnya sebagai “bahasa burung” hasil kursus sehari dengan masyarakat Bonde keturunan Laoje menjadi senjata kami untuk meredam kebuasan suku ter-asing di pedalaman Sojol. Fuyul (Gunung) Sojol berada di kawasan pegunungan Ogoamas, termasuk wilayah Kecamatan Balukang, Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah. Gunung dalam kawasan cagar alam ini terletak di antara sisi barat timur perairan laut Sulawesi Tengah. Untuk mendaki Sojol dari sisi pantai barat, yang akan menjadi awal pendakian ini, ada kendala untuk mendapatkan informasi yang akurat. Berbeda dengan sisi timur yang dilalui jalur trans Sulawesi. Karena keterbatasan itulah, 3 orang diutus menjadi tim pendahulu, Galih, Yudi ‘Pentil’ dan Yayat ‘Kolotok’, untuk mengumpulkan informasi dan mengurus perijinan sampai ke Bonde, desa di titik awal jalur yang kami rencanakan. Hampir 2 minggu berselang setelah semua data dan ijin beres, 4 orang berikutnya, Irwanto, Djarot, Ayonk, dan saya, menyusul. Tiga jam lepas dari Cengkareng, cuaca panas menyengat Bandara Mutiara, Palu, menyatukan kami bertujuh yang bersiap memulai perjalanan ke titik awal. Mobil Elf putih meninggalkan terminal Palu, mengangkut 12 penumpang termasuk kami bertujuh plus 1 orang penggiat alam setempat yang kami ajak bergabung dalam pendakian ini. Mobil melaju tak mulus menyusur pantai barat Sulawesi Tengah dari Palu. Beberapa ruas jalan banyak yang rusak membuat pijakan gas tak stabil ditekan. Beberapa jembatan banyak yang putus. Selain itu, puluhan bahkan ratusan sapi dengan tenangnya menghalangi jalan aspal, membuat supir harus sabar menunggu para penguasa jalan pantai barat itu menepi. Enam jam didekap dalam mobil, akhirnya Bonde, dusun awal, dijelang. Bonde adalah sebuah dusun yang termasuk wilayah desa Balukang, kecamatan Dampelas Sojol, kabupaten Donggala. Dusun kecil di tepi bangkalang (sungai) Silambo itu hanya ditempati beberapa rumah saja. Berbagai suku, baik pendatang seperti dari Bugis dan Makasar, berbaur dengan masyarakat asli pedalaman yang sudah berinteraksi. Matahari mulai redup terbenam di ufuk barat. Rumah panggung yang disediakan kepala dusun terasa nyaman saat kaki dilonjorkan di atas rumah panggung. Keramahan Mada, pemilik rumah, serta istri semakin membuat nyaman hati kami. Satu hari menjelang pendakian, penentuan titik awal dilakukan untuk memastikan langkah kami selanjutnya. Kebun coklat dan sungai kami susuri di tengah terik matahari yang menyengat, membuat kulit terbakar. Setelah mengecek beberapa posisi, menjelang sore kami sepakat mengenai titik awal pendakian besok, yaitu awal percabangan Bangkalang Silambo, dan sebuah rumah di seberangnya akan menjadi start kami mendaki. Hari masih terlalu pagi bagi penduduk Bonde untuk memulai rutinitasnya saat kami berkemas mempersiapkan peralatan. Suara berisik yang ditimbulkan membangunkan pemilik rumah yang akhirnya ikut sibuk hilir-mudik melihat persiapan kami. Menjelang pukul delapan Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA), setelah makan pagi, kami menumpang truk pengangkut pasir sampai tepian sungai. Kemudian kami lanjutkan dengan jalan kaki, termasuk menyeberang Bangkalang Silambo, menuju rumah yang telah ditandai kemarin. Baru saja kami tiba di rumah panggung yang dimaksud, langit tiba-tiba gelap dan petir menggelegar di atas gunung dan bukit di atas. Rintik hujan turun, semakin lama semakin deras. Selang beberapa menit setelah hampir 2 jam hujan mengguyur, warna air sungai berubah coklat dan semakin pekat serta permukaannya meninggi. Gelegak arus sungai terdengar keras dan alirannya semakin deras. Beberapa orang petani coklat dan pembalak hutan yang bersiap pulang tertegun dan mengurungkan niatnya menyeberang sungai. Setelah menunggu lama, air tak juga surut. Mereka kembali ke pondok sementara mereka. Saat kabut terbuka, puncakan-puncakan terlihat jauh di sana, puncakan yang akan kami jelang selama belasan hari ke depan. Titik awal Pagi datang bersama kesibukan persiapan yang dilakukan, di bawah tatapan keingintahuan penduduk di titik awal. Ransel disetel agar sesuai dengan punggung. Perbekalan pun diatur seefektif mungkin agar paket sejumlah 60 bungkus untuk 20 hari, seberat lebih dari 250 kg, dapat diangkut ke depan, aman dan tak cepat rusak. Suhu udara begitu cepat naik, peluh bercucuran saat langkah maju menerobos kebun coklat. “Tunggu saja disini, sementara kita cek dulu punggungan di depan,” kata saya yang bertugas menjadi pembuka jalur bersama Ayonk dan Agus, wakil dari PA Palu, ketika sampai di sebuah gubuk petani coklat menjelang satu punggungan. Memang pada bagian bawah, kaki Sojol memiliki tingkat kesulitan yang tersendiri dengan banyaknya punggungan kecil yang memiliki alur sendiri-sendiri. Seperti saat kemarin ketika mengecek titik awal dan mencoba naik salah satu punggungan, ternyata alurnya banyak menabrak dinding punggungan besar sehingga membentuk tebing dan jurang. Takut kejadian kemarin terulang, mengingat beban yang begitu banyak yang harus diangkut regu pengangkut logistik, saya berinisiatif agar mereka menunggu. Selang 1 jam kemudian saya kembali. “Ok, punggungannya sudah benar, langsung aja naik ikuti tanda bacokan tiga sampai pondok di atas!” kata saya. Ransel-ransel penuh beban di bawah terik suhu udara membuat sekujur badan basah oleh keringat. Nafas-nafas terdengar berat, menapak satu demi satu pijakan menanjak. Suara anjing ramai terdengar saat kami sampai di sebuah pondok pada sebuah punggungan yang tak terlalu lebar. Biji coklat yang disebar di tanah untuk dikeringkan menutupi bidang tanah yang harus dilewati. Sambil uluk salam pada penghuni pondok kami meminta ijin untuk lewat. Setiba di pondok itu, RPL atau regu pengangkut logistik harus kembali ke gubuk di bawah untuk kembali mengangkut sisa logistik yang tak bisa dibawa dalam sekali jalan. Sedangkan saya, Ayonk dan Agus terus maju ke depan membuka jalur sampai titik akhir yang direncanakan di hari pertama ini. Medan yang lebih berat Lintasan yang dilalui ternyata lebih berat dari lintasan sebelumnya. Kemiringan jalur bahkan mencapai 70 sampai 80 derajat. Selain kaki, tangan kami pun harus membantu berpegangan pada akar dan daun di sekitar lintasan yang dibuat. Mengingat RPL membawa beban yang berat, kami sebagai RPJ (regu pembuka jalur) selain menentukan dan membuka lintasan juga membuat pijakan dengan melobangi tanah. Untung saja lintasan dengan kemiringan curam ini hanya beberapa puluh meter saja sehingga kami tak terlalu lama menghabiskan waktu di satu lintasan itu saja. “Ok, di sini saja kita bermalam! Sepertinya tim di belakang tak akan bisa jauh dengan jalur seperti ini. Kita pasang flysheet dulu, nanti kita buka jalur ke depan dan kembali lagi ke sini!” putus saya. Belum sempat memasang flysheet sebagai tanda berhenti untuk regu di belakang, hujan turun semakin lama makin deras. Pohon pandan dan rotan yang rimbun di dekat lokasi tersebut kami gunakan untuk berlindung dari hujan, dan ternyata efektif, tak mampu ditembus air hujan. Selang 30 menit kemudian hujan berhenti, flysheet kami pasang bersamaan dengan datangnya RPL yang basah kuyup. “Di sini kita bermalam,” kata saya pada 5 rekan yang menjadi RPL. Setelah ransel dikosongkan oleh RPL, sekitar pukul 14.00 WIT mereka segera turun kembali ke pondok di atas punggungan untuk mengangkut sisa perbekalan dan perlengkapan. Sementara saya bertiga melanjutkan ke depan membuka jalur tanpa membawa ransel. Berbeda dengan vegetasi sebelumnya yang relatif mudah dilalui, lintasan ke depan ternyata lebih sulit dilalui. Bukan kemiringan medan yang menjadi kendala, tapi vegetasi semak belukar dengan rotan dan pandan yang rapat sangat sulit untuk ditembus. Tak terbilang luka-luka di tangan akibat duri dan sulur rotan serta pandan, seakan menguji ketabahan tekad kami untuk meneruskan niat mencapai puncaknya. Dua jam menebas hanya sekitar 300 meter jarak yang bisa kami tembus, itu pun hanya sebatas ruang yang hanya pas seukuran tubuh kami yang tak membawa ransel. “Tak apalah, besok kita perbesar jalurnya, biar bisa dilalui RPL,” pikir kami. Setengah jam kemudian ketika kembali ke lokasi dimana flysheet didirikan, ternyata RPL belum seluruhnya berkumpul. “Masih ada satu bullsack yang belum terangkut. Kolotok sedang mengambilnya,” lapor ‘Mas Item’, pendaki tertua di pendakian ini. Menjelang maghrib, Yayat yang dipanggil Kolotok itu dengan tubuh basah kuyup bergabung kembali. Malam itu, kantuk begitu cepat datang membuai tidur kami yang sangat lelap. Hhh, sungguh hari yang melelahkan... Hari kedua pendakian tak berbeda dengan hari pertama. Beban yang masih sarat, rotan dan pandan masih menjadi kendala ketika harus bergerak cepat memperpanjang jarak. Kami mengulangi pengalaman sebelumnya saat bermalam di hari ke dua: udara yang panas dan tidur tanpa tenda. Namun kini fatal. Kami lupa bahwa kemarin kami belum beradaptasi dengan aktivitas berat ini sehingga tubuh cepat lelah dan dapat tidur nyenyak tak merasakan keadaan sekitar. Di hari ke dua ini kami mendapatkan pelajaran pahit. Saat malam mulai datang, puluhan bahkan ratusan nyamuk datang menyerbu. Bukan itu saja, bermacam kutu terasa menggerayang di tubuh kami. Suara dengingan nyamuk dan garukan di badan harus kami rasakan sepanjang malam. Lotion anti nyamuk hanya sejenak menghentikan serbuannya karena keringat tubuh di udara yang panas ini dengan cepat melunturkannya. Pagi datang, dengan malas kami hadapi. Kurang tidur semalam sangat terasa di pagi ini. “Kenapa mata lu bengkak, Tok,” tanya Djarot pada Kolotok. “Kena nyamuk, euy!” jawab Kolotok dengan lesu. Rupanya tadi malam untuk menghindari serbuan nyamuk, Kolotok dapat ide menutup seluruh tubuhnya dengan sarung dan hanya menyisakan bagian matanya yang terbuka. Sadisnya, nyamuk Sojol ternyata tak pilih-pilih tempat. Ketika seluruh tubuhnya terbungkus sarung dan hanya bagian mata itu saja yang terbuka, bagian itulah yang diserangnya. Lumayan, ‘penderitaan’ Kolotok cukup menyegarkan suasana pagi yang muram ini. “Uff, apa ini?” Ayonk memeriksa bagian tubuhnya. Sebentuk kecil kutu tengah mencari bagian tubuhnya untuk digigit. “Gila, ini sih kutu babi!!” Kekhawatiran kami ketika melintasi banyak kubangan-kubangan babi di sepanjang lintasan ternyata terbukti. Hari-hari pendakian setelah hari ketiga, selain masih terdengar suara chainsaw di lembahan, kutu babi dan pacet menjadi menu rutin pemeriksaan badan di sela-sela istirahat. Ketika hujan datang, di siang hari saat sampai di kemah I, kami mandi sepuas-puasnya membersihkan badan. Tak kami hiraukan lagi waktu tersisa untuk menambah jarak. Tenda berdiri di hari ke tiga ini, tak rela lagi kami berbagi darah dengan nyamuk dan kutu. Malam itu dengingan nyamuk hanya mampu berputar di sekitar tenda. “Rasain, Lu!!” Puncak 1229 “Tadi kita sudah sampai di atas puncakan, sepertinya itu puncak 1229!!” laporan pembuka jalur, Ayonk, Kolotok, Djarot dan Agus. “Orientasi tidak?” tanya saya. “Nggak bisa, tertutup kabut,” jawab Kolotok. “Ok, besok kita bergerak bersamasama. Semua beban kita bagi rata, masing-masing 2 paket,” putus saya di hari ke 8 itu. Belum jam delapan kami berdelapan sudah siap dengan ransel di punggung. Turunan dan tanjakan terasa menguras tenaga. Dan yang paling mengesalkan adalah rotan dan durinya. Tak terhitung berapa kali kami harus terjerembap ketika kaki terkait rotan yang menjalar di tanah, atau terjengkang ke belakang ketika sulur rotan berduri mengait ransel, saat berusaha maju. “Mana puncaknya, Tok ?” “Eh, ternyata salah euy, puncak 1229 masih di depan,” jawabnya sambil cengengesan. Yah, kesalahan yang cukup bisa kami terima akibat kabut dan kanopi yang lebat menyulitkan untuk orientasi. “Okelah dirikan saja kemah di sini, sementara saya, kolotok dan Djarot membuka jalur ke depan,” usul saya yang langsung disetujui. Ketika kami bertiga membuka jalur, seperti biasanya rotan dan pandan mendominasi vegetasi yang harus kami tembus. Namun kali ini rotan yang kami hadapi lebih besar dari rotan sebelumnya, bahkan ada rotan yang memiliki diameter 20 sampai 30 centimeter, tentunya dengan duri yang lebih besar. Belum lagi pacetnya, juga terasa lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Tiga jam kemudian kami bertiga bergabung di kemah yang kami dirikan. “Jalur sudah kita temukan, kita pindah punggungan ke kiri untuk menghindari kemungkinan ketemu tebing,” kata saya. Memang lintasan menuju kemah 2 harus lebih hati-hati kami tentukan. Bentukan kontur di peta 1:50.000 menunjukan ada 2 kontur yang hampir rapat dan biasanya akan membentuk medan yang curam. Belum lagi cerita pendakian sebelumnya, mereka naik dari titik awal yang beda dan bergabung ke jalur yang kami buat dan mereka harus menerima kegagalan karena terhadang tebing ketika mencoba mencapai kemah 2, kemah rencana kami. “Besok, saya, Ayonk, Kolotok dan Agus membuka jalur dan yang lain menyusul kemudian,” hasil briefing malam ke-9 itu menjadi keputusan untuk pergerakan esok. Wilayah berburu suku Laoje Hujan turun dengan deras ketika kami mengawali pagi. Tak terdengar nyanyian burung yang biasanya mengiringi mentari saat pagi datang. Di tengah guyuran hujan yang membuat seluruh tubuh dan pakaian basah kuyup, kami berempat membuka jalur menuju puncakan 1229. Raincoat tak kami kenakan di medan penuh rotan dan duri ini. Selain tak leluasa untuk menebas, duri rotan siap mengoyak pakaian antiair itu. Satu jam setelah makan siang, kami berhasil mencapai punggungan menjelang puncak 1229 m dpl. Di punggungan itulah kami dirikan kemah, sementara saya berempat terus membuka jalur sampai kemah 2 tanpa ransel. Medan yang dilalui memang cukup curam, untungnya kami tak terlalu banyak menebas. Sisa-sisa jalur yang dibuat suku pedalaman penghuni Fuyul Sojol ini masih agak terbuka dan pijakannya lebih padat. Suku pedalaman? Itu hanya dugaan kami. Hal itu diperkuat dengan banyaknya bekas-bekas yang kami temukan di sepanjang jalur, seperti bekas trap (jebakan binatang) dan pondok sementara yang sudah hancur. Konon, walaupun suku Laoje --suku pedalaman itu-- menempati daerah lebih ke timur dari jalur yang kami buat, namun daerah lintasan kami termasuk areal berburu suku tersebut. Beberapa kali kami temukan trap yang masih aktif, namun beberapa sudah mati bahkan satu trap hanya menyisakan tulang kaki di ujung talinya. Dugaan kami, anoa serta babirusa yang terjerat itu tak sempat mereka cek sehingga kedua binatang itu mati lemas dalam jebakan dalam waktu yang lama. Kemah 2 di ketinggian 1336 m dpl berhasil kami tembus. Tapi walaupun kami namakan kemah, tidak kami gunakan untuk bermalam. Kami berempat kembali turun ke punggungan menjelang 1229 m dpl untuk bermalam. Ujian Sojol “Setelah puncak 1336 ini, kita turun 6 kontur. Hati-hati, jalurnya tipis!” Penggambaran medan lintasan di peta membuat kami meningkatkan konsentrasi. Menebas sudah tak lagi selebat sebelumnya. Jalur yang tipis berbatu serta menurun membuat lintasan yang kami pilih sedikit terbuka. Kami berpegangan pada akar dan pohon, turunan yang kami waspadai ini memang sangat curam. Gravitasi bumi begitu terasa apalagi dengan beban di punggung yang masih sarat. Saat memilih pijakan pun harus hati-hati. Batuan-batuan di lantai hutan lintasan ini begitu rapuh dan goyang saat dibebani. Sepertinya kami harus berterimakasih pada akar dan pohon yang beberapa kali menjadi penyelamat saat kaki kami terpeleset salah memilih pijakan. Tiba di dasar turunan, lintasan semakin tipis. Kiri kanan kami kedalaman cukup mendebarkan, menguji konsentrasi yang tinggi. Panjang lintasan di dasar turunan ini memang tak terlalu panjang, tapi lintasan tipis bentukan dari pertemuan awal lembahan ini sangat minim pohon untuk pegangan. Alhasil, bukan cuma kaki yang menapak di batuan lintasan tipis selebar 40 sampai 60 centimeter itu, tangan pun ikut pula berpegangan pada batu yang seharusnya menjadi pijakan. Kadangkala kami maju dengan setengah membungkuk, atau berlagak seperti pemain sirkus yang sedang meniti tali. Untunglah lintasan sepanjang kira-kira 100 meter itu bisa kami lewati sampai akhirnya kami berpegangan pada sebuah batu besar di hadapan kami. Berakhirkah ujian konsentrasi ini? Ternyata tidak! Batu besar itu ternyata menghalangi jalur yang seharusnya menjadi lintasan kami. Naik ke atasnya, terlalu tinggi. Melipir ke sisi kanan batu itu satu-satunya cara untuk menghindarinya. Tak sejauh lintasan sebelumnya memang, namun selain badan harus mepet ke badan batu, pijakan kaki bukan lagi tanah atau batu. Tapi hanya akar-akar pohon yang merambat sementara bagian bawahnya kosong. Cukup mendebarkan ketika kaki kami menapaknya, akar itu terasa bergoyang saat dipijak. Satu-satu kami berhasil melewati lintasan akar sepanjang 10 meter itu sampai nafas lega menghembus saat kaki kembali memijak tanah. Lintasan selanjutnya memang masih tipis dan menanjak. Pohon dan akar kembali membantu tubuh kami saat menambah ketinggian dan berhasil menemukan daerah yang cukup lebar untuk mendirikan tenda. Kicau burung saling bersahutan di pagi yang cerah. Sinar matahari satu-satu berhasil menerobos lebatnya kanopi hutan. Diiringi nyanyian burung, langkah kembali terayun menembus belukar rotan yang mengisi ruang-ruang bawah hutan rimba Sojol. Kubangan-kubangan air banyak ditemukan sepanjang lintasan bekas hujan semalam. “Ada gubuk di depan!!” Degup jantung sedikit terpacu, terbayang sosok bercawat dengan sumpit dan tombak yang banyak kami dengar sebelumnya. “Lea Jeang, mangge!!” kalimat yang paling kami hapal itu kami kumandangkan seraya mendekati gubuk. Tak terdengar jawaban. Semakin dekat, gubuk tersebut terlihat sudah cukup lama tak lagi dipergunakan walaupun beberapa alat masak tradisionil masih tersimpan di dalamnya. Selain itu, banyak tali plastik seperti tali jebakan yang sebelumnya kami temui, tergulung diselipkan di dinding gubuk. Satu jerigen terisi setengah tersimpan di sudut. “Hmhh, mungkin ini hanya gubuk persinggahan ketika mereka berburu,” pikir kami. Sedikit meneliti dan memeriksa isi gubuk, banyak sekali ditemukan tulang belulang babi hutan di sekitar gubuk. Rupanya binatang ini menjadi makanan mereka. Mirip Obelix dan Asterix orang Galia, canda kami. Melewati Kemah 3 Jarak terus kami tambah walau hujan turun dengan deras sejak siang sampai sore. Suhu yang dingin menusuk di bawah curah hujan, membuat kami menghentikan langkah untuk membuat perlindungan. Selain itu persediaan air menipis. Sungguh sayang kalau sampai hujan reda dan kami tak sempat menampungnya. Tenda didirikan pada sebuah dataran memanjang. Dengan tubuh setengah menggigil, kami menampung air hujan ke dalam semua jerigen, botol dan kantung air. Teh dan kopi panas dengan cepat tersaji, sangat terasa hangat di perut, apalagi pakaian kami masih basah kuyup. Hujan reda hampir pukul 7 malam bertepatan dengan sajian makan malam racikan Galih yang terasa menggairahkan selera. Ditemani api unggun yang mulai kuat panasnya, di antara jemuran pakaian di sekeliling areal tenda, satu-satu bintang mulai muncul menambah kenikmatan makan malam ini. “Menurut perhitungan sih, Kemah 3 bakal kelewat hari ini. Mudah-mudahan tekor hari kemarin bisa kebayar sekarang.” Perkiraan kami ini didukung dengan medan lintasan berupa punggungan lebar. Selain itu rotan sudah semakin jarang sehingga lintasan yang kami pilih lebih terbuka tak perlu banyak menebas. Satu jam berjalan, Kemah 3 berhasil kami lalui. Pada satu pertemuan punggungan kami sempat mencari dan memperkirakan lintasan yang pernah dibuat pendaki sebelumnya yang bergabung ke lintasan kami. Bayangan mengikuti jalur yang sudah ada bekas pendaki sebelumnya akan memudahkan kami, luluh ketika menghadapi medan sebenarnya. Waktu yang cukup panjang sejak terakhir pendakian sekitar 3 tahun lalu membuat belukar kembali menutupnya. Belum lagi robohan pohon banyak menghalangi lintasan. Tanjakan, turunan tajam dan tipis kembali harus ditempuh. Bangkalang Balukan yang menjadi patokan (stringline-garis batas) sebelah utara atau sebelah kiri kami terdengar mengguruh jauh di kedalaman lembah di bawah sana. Memasuki hutan berlumut tebal, batu-batu yang banyak mengisi lantai hutan menyulitkan kami mencari tempat untuk mendirikan tenda di sore hari ke 11 ini. Kabut perlahan mulai turun, batara kala mulai menyelubungi hari yang semakin tua. Setelah mencari beberapa kali tempat mendirikan tenda, di tengah kepungan lumut tebal yang dingin, malam berlalu dalam dengkuran yang gelisah. Puncak!! Pagi yang basah di antara lumut tebal membuat malas untuk keluar tenda. Tidur yang terganggu gatal di sekujur tubuh akibat kutu babi dan pacet menjadi penyebab keengganan memulai hari. Tapi apa daya, Sojol masih merentang jarak di ketinggian sana. Ransel kembali bertengger dengan angkuhnya di punggung kami. Tanjakan demi tanjakan di hutan terselimut lumut dan kabut mengantarkan kami di sore hari ke-12 itu pada tulisan di seng yang dipaku pada sebuah pohon, “PUNCAK!!” Namun, kami harus meredam sejenak semangat untuk menggapainya. Malam yang segera datang menjelang menunda pencapaian puncak. Malam yang dingin di hutan lumut ditemani bintang bertaburan serta sepotong bulan di angkasa menghembuskan tiupan angin yang menggigilkan. Mengikuti tanda jalur berupa pita yang diikat ke batang pohon, lintasan terasa semakin melipir punggungan. Semakin lama lintasan semakin miring, tipis dan curam. Sempat kami menjumpai sebuah gua, terlihat dari jejak-jejak dan bekas yang tertinggal. Dugaan kami, gua itu menjadi tempat sementara untuk berteduh penghuni asli gunung ini. Melihat jejak itu pula, kami menduga lintasan ini adalah lintasan penduduk pedalaman saat berburu. Pada sebuah dataran agak lebar, sambil mempersiapkan makan siang, orientasi dilakukan. Ternyata dari hasil orientasi, jalur yang kami ikuti memutari kaki puncak Sojol dan kami berada hampir di utara puncak Sojol. Jalur pelipiran ke depan masih terus bermain di kemiringan curam. Setelah meyakinkan posisi, kami putuskan untuk langsung naik berpatokan pada sudut kompas 172°. Dengan sudut itu, kami yakin akan langsung menuju puncak Sojol. Usai makan siang, rencana dilaksanakan. Jalur yang dipilih adalah sebuah punggungan lebar sehingga cukup mudah untuk menembusnya. Kabut tebal turun sangat cepat ketika sampai di dataran sekitar puncak. Pandangan ke sekitar sangat terbatas baik oleh rapatnya pohon dan kabut yang semakin tebal dan mulai menurunkan gerimisnya. Triangulasi Konon menurut cerita, di puncak Sojol terdapat triangulasi walaupun pada peta sama sekali tidak digambarkan adanya triangulasi tersebut. Dataran landai sekitar Sojol akhirnya kami telusuri untuk mencari dan membuktikan adanya triangulasi itu. Sayang, gerimis semakin deras sementara kabut bukannya membuka malah semakin tebal memaksa kami untuk mencari areal untuk bermalam. Petir menggelegar dibarengi hujan deras berpadu dengan angin menderu membawa suhu yang terasa lebih dingin dari hari-hari sebelumnya. 6°C, man!! Hujan pembawa berkah --dengan penuhnya seluruh tempat air-- reda 2 jam kemudian. Angin dari lembahan terus mendera menambah dingin suhu udara. Kami yang berteduh di bawah flysheet sambil menahan dingin mulai bergerak membangun tenda. Angin dari lembahan terus menerjang diiringi suara yang menyeramkan. Malam belum lagi menjelang tapi kami lebih nyaman berada di dalam dekapan kehangatan tenda. Bahkan ajakan makan malam dari tenda sebelah yang bertugas memasak dengan malas kami tanggapi. Hanya saja cacing-cacing di perut dengan buas berontak membuat kami keluar tenda yang langsung disambut suhu yang dingin. Sampai minus derajat sih pasti tak mungkin, walau hidung kami dengan tak sadar terus mengucurkan cairan. Tak berminat lagi kami melihat thermometer yang digantung di luar sana. Perut terisi, tubuh terasa lebih hangat. Lebih hangat lagi ketika sleeping bag Eiger —salah satu sponsor pendakian ini— membungkus seluruh tubuh di dalam tenda. Esok, kami kembali harus mencari dan membuktikan cerita tentang triangulasi dan memastikan keberadaan kami di puncak Sojol!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gunung Tertinggi Di Indonesia

Gunung Tertinggi Di Indonesia- info tentag gunung tertingi di indonesia
Kali ini saya sebagai warga indonesia melestarikan gunung gungung yang berada di indonesia
apakah anda tau gunung mana yang paling tertinggi
silahkan lihat di bawah ini
Gunung Tertinggi Di Indonesia


  • Gunung Wetar Memiliki Tinggi 5.282 meter Berada di Propinsi Maluku
  • Gunung Jaya/Ngapulu Memiliki Tinggi 5.030 meter Berada di Propinsi Papua
  • Gunung Api Memiliki Tinggi 5.000 meter Berada di Propinsi Pulau Sangir
  • Gunung Dwikora Memiliki Tinggi 4.750 meter Berada di Propinsi Papua
  • Gunung Trikora Memiliki Tinggi 4.750 meter Berada di Propinsi Papua
  • Gunung Mandala Memiliki Tinggi 4.700 meter Berada di Propinsi Papua
  • Gunung Wurlali Memiliki Tinggi 4.668 meter Berada di Propinsi Maluku
  • Gunung Yamin Memiliki Tinggi 4.595 meter Berada di Propinsi Papua
  • Gunung Laworkawra Memiliki Tinggi 4.481 meter Berada di Propinsi Maluku
  • Gunung Leuser Memiliki Tinggi 4.446 meter Berada di Propinsi DI Aceh
  •  
  • Gunung Serawema Memiliki Tinggi 4.355 meter Berada di Propinsi Maluku
  • Gunung Legatala Memiliki Tinggi 4.241 meter Berada di Propinsi Maluku
  • Gunung Nieuwerkerk Memiliki Tinggi 4.185 meter Berada di Propinsi Maluku
  • Gunung Derabaro Memiliki Tinggi 4.150 meter Berada di Propinsi Papua
  • Gunung Kerinci Memiliki Tinggi 3.800 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
  • Gunung Batutara Memiliki Tinggi 3.750 meter Berada di Propinsi NTT
  • Gunung Rinjani Memiliki Tinggi 3.726 meter Berada di Propinsi Lombok
  • Gunung Mahameru Memiliki Tinggi 3.676 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
  • Gunung Semeru Memiliki Tinggi 3.676 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
  • Gunung Anuan Memiliki Tinggi 3.673 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
  • Gunung Rantemado Memiliki Tinggi 3.445 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
  • Gunung Slamet Memiliki Tinggi 3.418 meter Berada di Propinsi Jawa Tengah
  • Gunung Sumbing Memiliki Tinggi 3.371 meter Berada di Propinsi Jawa Tengah
  • Gunung Yaramamafaka Memiliki Tinggi 3.370 meter Berada di Propinsi Papua
  • Gunung Arjuna Memiliki Tinggi 3.339 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
  • Gunung Raung Memiliki Tinggi 3.332 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
  • Gunung Awu Memiliki Tinggi 3.330 meter Berada di Propinsi Sulawesi Utara
  •  
  • Gunung Kulawi Memiliki Tinggi 3.311 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Lawu Memiliki Tinggi 3.265 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
  • Gunung Sonjo Memiliki Tinggi 3.225 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Welirang Memiliki Tinggi 3.166 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
  • Gunung Dempo Memiliki Tinggi 3.159 meter Berada di Propinsi Bengkulu
  • Gunung Agung Memiliki Tinggi 3.142 meter Berada di Propinsi Bali
  • Gunung Merbabu Memiliki Tinggi 3.142 meter Berada di Propinsi Jawa Tengah
  • Gunung Argopuro Memiliki Tinggi 3.088 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
  • Gunung Redoura Memiliki Tinggi 3.083 meter Berada di Propinsi Papua
  • Gunung Mueajan Memiliki Tinggi 3.079 meter Berada di Propinsi DI Aceh
  • Gunung Cireme Memiliki Tinggi 3.078 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
  • Gunung Gandadinata Memiliki Tinggi 3.074 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
  • Gunung Bandahara Memiliki Tinggi 3.030 meter Berada di Propinsi DI Aceh
  • Gunung Panet sagu Memiliki Tinggi 3.019 meter Berada di Propinsi DI Aceh
  • Gunung Pangrango Memiliki Tinggi 3.019 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
  • Gunung Binaiya Memiliki Tinggi 3.019 meter Berada di Propinsi Maluku
  • Gunung Balease Memiliki Tinggi 3.016 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
  • Gunung Abong-abong Memiliki Tinggi 3.015 meter Berada di Propinsi DI Aceh
  • Gunung Kwoko Memiliki Tinggi 3.000 meter Berada di Propinsi Papua
  • Gunung Gede Memiliki Tinggi 2.958 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
  • Gunung Suket Memiliki Tinggi 2.950 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
  • Gunung Kambuno Memiliki Tinggi 2.950 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
  • Gunung Kondo Memiliki Tinggi 2.947 meter Berada di Propinsi NTB
  • Gunung Arfak Memiliki Tinggi 2.940 meter Berada di Propinsi Papua
  • Gunung Masurai Memiliki Tinggi 2.935 meter Berada di Propinsi Jambi
  • Gunung Merapi Memiliki Tinggi 2.914 meter Berada di Propinsi Jawa Tengah
  • Gunung Talakmau Memiliki Tinggi 2.912 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
  • Gunung Pasaman Memiliki Tinggi 2.900 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
  • Gunung Marapai Memiliki Tinggi 2.891 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
  • Gunung Tolondokalaud Memiliki Tinggi 2.884 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
  • Gunung Seblat Memiliki Tinggi 2.883 meter Berada di Propinsi Bengkulu
  • Gunung Singgalang Memiliki Tinggi 2.877 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
  • Gunung Lampobatang Memiliki Tinggi 2.871 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
  • Gunung Butak Memiliki Tinggi 2.868 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
  • Gunung Tambora Memiliki Tinggi 2.851 meter Berada di Propinsi NTB
  • Gunung Bateekeubeu Memiliki Tinggi 2.840 meter Berada di Propinsi DI Aceh
  • Gunung Cikurai Memiliki Tinggi 2.821 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
  • Gunung Patah Memiliki Tinggi 2.817 meter Berada di Propinsi Bengkulu
  • Gunung Merapi Memiliki Tinggi 2.800 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
  • Gunung Mengkoka Memiliki Tinggi 2.790 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tenggara
  • Gunung Bapagat Memiliki Tinggi 2.732 meter Berada di Propinsi Bengkulu
  • Gunung Gamalama Memiliki Tinggi 2.700 meter Berada di Propinsi Maluku
  • Gunung Karangetung Memiliki Tinggi 2.700 meter Berada di Propinsi Sulawesi Utara
  • Gunung Pantai Cermin Memiliki Tinggi 2.690 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
  • Gunung Togwomeri Memiliki Tinggi 2.680 meter Berada di Propinsi Papua
  • Gunung Bumi Geureudong Memiliki Tinggi 2.670 meter Berada di Propinsi DI Aceh
  • Gunung Sinajai Memiliki Tinggi 2.669 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
  • Gunung Papandayan Memiliki Tinggi 2.665 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
  • Gunung Kabinturu Memiliki Tinggi 2.655 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
  • Gunung Kawi Memiliki Tinggi 2.651 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
  • Gunung Paroreang Memiliki Tinggi 2.616 meter Berada di Propinsi Sulawesi Selatan
  • Gunung Bumi Telong Memiliki Tinggi 2.600 meter Berada di Propinsi DI Aceh
  • Gunung Talang Memiliki Tinggi 2.597 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
  • Gunung Geureudong Memiliki Tinggi 2.590 meter Berada di Propinsi DI Aceh
  • Gunung Perahu Memiliki Tinggi 2.565 meter Berada di Propinsi Jawa Tengah
  • Gunung Ogoamas Memiliki Tinggi 2.565 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Mad Memiliki Tinggi 2.552 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Tanamatua Memiliki Tinggi 2.543 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Perkison Memiliki Tinggi 2.532 meter Berada di Propinsi DI Aceh
  • Gunung Liman Memiliki Tinggi 2.512 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
  • Gunung Colo Memiliki Tinggi 2.509 meter Berada di Propinsi Sulawesi Utara
  • Gunung Rerekautimdu Memiliki Tinggi 2.508 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Sumbing Memiliki Tinggi 2.507 meter Berada di Propinsi Jambi
  • Gunung Tangga Memiliki Tinggi 2.500 meter Berada di Propinsi DI Aceh
  • Gunung Jambangan Memiliki Tinggi 2.482 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
  • Gunung Lompopana Memiliki Tinggi 2.480 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Gadang Memiliki Tinggi 2.466 meter Berada di Propinsi Bengkulu
  • Gunung Sibuatan Memiliki Tinggi 2.457 meter Berada di Propinsi Sumatra Utara
  • Gunung Lambuno Memiliki Tinggi 2.443 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Malino Memiliki Tinggi 2.443 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Tandiket Memiliki Tinggi 2.438 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
  • Gunung Patuha Memiliki Tinggi 2.434 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
  • Gunung Kapaladmada Memiliki Tinggi 2.429 meter Berada di Propinsi Maluku
  • Gunung Tambusisi Memiliki Tinggi 2.422 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Sinabung Memiliki Tinggi 2.412 meter Berada di Propinsi Sumatra Utara
  • Gunung Ranakah Memiliki Tinggi 2.400 meter Berada di Propinsi NTT
  •  
  • Gunung Butumpu Memiliki Tinggi 2.400 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Tumpu Memiliki Tinggi 2.400 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Bromo Memiliki Tinggi 2.392 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
  • Gunung Ulumasen Memiliki Tinggi 2.390 meter Berada di Propinsi DI Aceh
  • Gunung Bismo Memiliki Tinggi 2.365 meter Berada di Propinsi Jawa Tengah
  • Gunung Nokilalaki Memiliki Tinggi 2.355 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Nangi Memiliki Tinggi 2.330 meter Berada di Propinsi NTB
  • Gunung Malabar Memiliki Tinggi 2.321 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
  • Gunung Pekawa Memiliki Tinggi 2.314 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Daku Memiliki Tinggi 2.304 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Dampal Memiliki Tinggi 2.304 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Sihabuhabu Memiliki Tinggi 2.300 meter Berada di Propinsi Sumatra Utara
  • Gunung Anjasmoro Memiliki Tinggi 2.282 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
  • Gunung Maruwali Memiliki Tinggi 2.280 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Bukitraya Memiliki Tinggi 2.278 meter Berada di Propinsi Kalimantan Barat
  • Gunung Batukau Memiliki Tinggi 2.276 meter Berada di Propinsi Bali
  • Gunung Maitang Memiliki Tinggi 2.262 meter Berada di Propinsi Sumatra Barat
  • Gunung Dali Memiliki Tinggi 2.253 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Guntur Memiliki Tinggi 2.249 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
  • Gunung Cemarakuning Memiliki Tinggi 2.248 meter Berada di Propinsi Jawa Timur
  • Gunung Inerie Memiliki Tinggi 2.245 meter Berada di Propinsi Pulau Flores
  • Gunung Liangpran Memiliki Tinggi 2.240 meter Berada di Propinsi Kalimantan Timur
  • Gunung Lumut Memiliki Tinggi 2.234 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Besagi Memiliki Tinggi 2.232 meter Berada di Propinsi Sumatra Selatan
  • Gunung Towengkeli Memiliki Tinggi 2.229 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Runcing Memiliki Tinggi 2.221 meter Berada di Propinsi Bengkulu
  • Gunung Salak Memiliki Tinggi 2.211 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
  • Gunung Gentilomatinan Memiliki Tinggi 2.207 meter Berada di Propinsi Sulawesi Tengah
  • Gunung Tentolomatinan Memiliki Tinggi 2.207 meter Berada di Propinsi Sulawesi Utara
  • Gunung Bukittunggul Memiliki Tinggi 2.203 meter Berada di Propinsi Jawa Barat
  • Gunung Telaga Bodas Memiliki Tinggi 2.201 meter Berada di Propinsi Jawa Barat

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gunung Latimojong

GUNUNG LATIMOJONG

 
Pencakar Tertinggi langit Celebes
         Pegunungan Latimojong merupakan salah satu pegunungan yang berada di Pulau Sulawesi, tepatnya berada di provinsi Sulawesi selatan, Pegunungan Latimojong mempunyai banyak Puncak-puncak yang diantaranya memiliki ketinggian diatas 3000 Mdpl, dan salah satunya adalah Puncak Rante Mario (3450 Mdpl) yang merupakan Puncak Tertinggi yang ada di Pulau Sulawesi.
Jalur Menuju Pegunungan Latimojong, (R. Mario)
            Secara Administratif, Pegunungan Latimojong berada di Kabupaten Enrekang, Palopo dan Tana Toraja, namun bila menuju ke Puncak Rante Mario, jalur yang lazim digunakan adalah melalui Kabupaten Enrekang, dari kota Kecamatan Baraka.
         Dari Makassar, anda dapat menggunakan jasa angkutan berupa mobil Kijang/Panther atau sejenisnya yang menuju ke Baraka, Kabupaten Enrekang, harga terakhir yang berlaku (Juli 2010) adalah sebesar Rp 60.000,- dari Makassar – Baraka, dengan Waktu Tempuh ± 6 Jam, kemudian anda akan turun di pasar Baraka, dari pasar tersebut perjalanan akan dilanjutkan dengan menggunakan mobil Hard top atau Jeep, dengan harga 30.000 per kepala.
            Namun yang perlu diperhatikan adalah mobil hard top atau jeep tersebut biasanya hanya ada ketika berlangsung Hari Pasar, yaitu hari dimana para penduduk yang hidup di kaki pegunungan latimojong turun ke pasar di Baraka untuk menjual segala hasil buminya, seperti kopi, bawang, kentang, salak, dll. Untuk itu amat disarankan untuk mengatur waktu operasional tiba anda tepat ketika hari pasar sedang berlangsung. Agar anda tidak perlu menunggu lama di Baraka untuk menanti Hard top/Jeep.
       Dari pasar Baraka kita akan menaiki Hard Top/Jeep menuju Desa Latimojong, desa tersebut terdiri dari 3 dusun, yaitu Rante Lemo, Angin-Angin dan Karangan, dengan data terakhir Hard top tersebut hanya dapat mengantar sampai ke Dusun Rante Lemo. Jalur yang akan kita lewati amat becek dan memang hanya bisa dilalui dengan Hard top / Jeep yang memiliki Double Gardan / 4 Wheel Drive, dengan Waktu Tempuh ± 2 ½ Jam.
Di baraka ini juga, kita lapor diri dan bersilaturrahim dengan Kelompok Pecinta Alam setempat yang Bernama KPA Lembayung, KPA Lembayung juga sering mengantar pendaki – pendaki yang meminta untuk ditemani dalam mendaki gunung Latimojong, sekretariat KPA Lembayung berada di belakang Sekolah dasar di sebelah Lapangan Bola Baraka, dekat juga dengan rumah bapak Dadang yang dikenal banyak mengetahui tentang Gunung Latimojong. Biasanya Anggota KPA Lembayung juga berkenan membantu dalam mencari mobil yang menuju ke desa Rante Lemo.
Perjalanan menuju dusun Rante lemo dilalui dengan susah payah untuk tetap berpegangan dan bertengger di mobil Hard Top, karena jalan yang dilalui tidak semulus jalan tol Jagorawi, tapi amat seru bila kita menikmatinya, mirip seperti sedang berarung jeram, namun pastinya yang harus diperhatikan bahwa kalau kita terjatuh, hanya ada dua pilihan jatuh ke jurang yang ada di sebelah kanan, atau terbentur batu – batu yang ada di sebelah kiri. Waw tidak ada pilihan yang enak bukan ??.
Tiba di Dusun Rante Lemo kita masih harus melanjutkan ke dusun karangan, sebuah dusun terakhir sebelum Pendakian ke Pegunungan Latimojong, jalur yang akan dilewati cukup menanjak dengan medan pasir batu dan kadang jalan pengerasan, sepanjang jalan menuju karangan kita akan melewati dusun kecil bernama karuaja dan bulukumba, waktu tempuh yang diperlukan adalah ± 2 Jam, sepanjang jalan tersebut kita akan melihat dusun-dusun yang seperti bertengger diatas perbukitan. Setelah berjalan ± 2 jam maka kita akan memasuki Dusun Karangan.
Dusun Karangan, yang kini menjadi “ibu kota” dari Desa Latimojong di dominasi rumah panggung tinggi yang memiliki fungsi selain sebagai sebuah rumah tinggal, namun juga menjadi tempat para penduduk menyimpan  hasil pertaniannya, yang umumnya adalah Kopi, di dusun ini para penduduknya juga amat ramah dan selalu menawarkan untuk menginap di rumahnya, kadang terdengar suara radio dan tivi dari dalam rumah, ya….. karena walaupun dusun ini terletak amat jauh, namun telah dijamah oleh Listrik.

Jalur Pendakian Menuju Puncak Rante Mario

    Dari dusun karangan, kita akan berjalan menyusuri kebun-kebun kopi milik para penduduk, medannya berbukit-bukit dengan tanah becek sebagai pijakan kita, di sebelah kiri kita sungai (salu) Karangan mengalir deras, dan kira – kira  20  menit  kemudian kita akan mendaki sebuah bukit dengan medan cukup Terjal dan akan sampai di pos 1 yang terletak diatas bukit tersebut.
            Perjalanan akan terlihat indah bila cuaca sedang cerah, karena kita dapat melihat perkebunan kopi dan cengkeh milik warga desa karangan dan sekitarnya, isilah air di sungai kecil yang melintang di jalur menanjak menujunke pos 1, karena dari situ kita akan baru bertemu air lagi di pos 2.
            Jalur untuk mencapai pos 2 dilalui dengan mendaki punggungan sebuah bukit yang tipis dengan igir-igir yang memanjang, kemudian kita akan mulai memasuki canopy hutan yang lumayan sudah rapat, perjalanan tidak begitu terjal, malahan setengah perjalanan akan bertemu jalur menurun, karena pos 2 terletak di pinggir sungai. Pos 2 merupakan sebuah pos yang berada di pinggir sungai dan terdapat cerukan lumayan besar dari batu besar yang terdapat di pinggir sungai tersebut, dan cerukan tersebut sering dijadikancampuntukpara pendaki..
Untuk menujun Pos 3, kita harus benar – benar  menyetel Carrier kita senyaman mungkin, karena jalur menuju pos 3 benar-benar terjal dan hampir tegak, untuk mendakinya tak jarang kita memerlukan bantuan tangan, walaupun jaraknya hanya sekitar 0,6 Km, namun memerlukan waktu ± 40 menit dari pos 2. Medan yang dilalui di awal merupakan bebatuan lepas yang bisa menjadi berbahaya bila kita berjalan tidak hati hati, beberapa waktu kita harus menggunakan tangan untuk membantu pergerakan untuk tetap naik, mungkin sudah termasuk dalam klasifikasi Scrambling.
            Pos 3 merupakan pos yang tidak begitu besar, hanya seperti tempat istirahat ketika lelah mendaki, lagipula di pos ini tidak terdapat sumber air, setelah di pos 3 beristirahat sejenak, perjalanan akan tetap mendaki menuju pos 4, namun jalur menuju pos 4 tidak seterjal sebelumnya, namun jarak yang akan ditempuh lebih panjang, pos IV berada di punggungan dan tempat ini lumayan luas, namun Pos 4 tidak mempunyai tempat air.
            Perjalanan dari pos 4 akan berlanjut melalui hutan-hutan berlumut, perhatikan kaki anda, banyak terdapat akar-akar tanaman yang menonjol keluar dan kalau tidak hati-hati anda bisa tersandung, perjalanan menuju pos 5 lumayan menanjak namun tidak terlalu terjal, hanya saja agak panjang dan lebat hutannya, setelah kira-kira satu jam, kita akan tiba di Pos 5.
            Pos 5 merupakan tanah datar yang lumayan luas, namun bila sehabis hujan, air biasanya menggenangi daerah tengah-tengah pos 5, terdapat bekas pohon tumbang disini, di pos 5 ini dapat memuat 10 – 12 buah tenda dome, di pos 5 terdapat sumber air, namun anda harus berjalan ± 200 meter untuk menuju sumber air tersebut, dan untuk menuju sumber air tersebut anda harus berjalan ke arah pos 6 dan kemudian akan menemukan sebuah pertigaan, ke kanan adalah menuju pos 6 dan ke kiri (turun) menuju ke sumber air, dari pos 5 ini juga anda dapat melihat sebuah air terjun di kejauhan diatas bukit yang terdapat di depan anda, tentunya bila cuaca cerah.
             Dari pos 5 diperlukan waktu kira-kira 50 menit untuk tiba di pos 6, jalurnya akan benar-benar menanjak dan udara dingin sudah benar-benar menusuk, bila tiba di pos 6 maka kita sudah mulai bisa melihat pegunungan latimojong di sekitar kita, dan untuk menuju pos 7, perjalanan akan benar-benar mengasyikan. Karena perjalanan kita akan melewati jalur sempit yang berada di atas awan-awan yang bergulung, cahaya matahari akan terlihat sangat indah apabila anda melewati jalur ini pada sore hari di hari yang cerah, anda harus benar-benar memperhatikan langkah, karena di sebelah kanan kiri anda terdapat jurang yang curam.
            Setelah berjalan kira-kira 90 menit dari pos 6, maka anda akan tiba di pos 7, sebuah pos yang paling indah di jalur ini, dari sini seakan-akan anda sudah berada di puncak, ketinggiannya adalah 3100 Mdpl, disini terdapat sebuah sungai di lembah sebelah kiri, dan untuk mencapai puncak rante Mario hanya diperlukan waktu kurang dari 30 menit lagi. Pos 7 ini juga merupakan tempat melihat pemandangan jajaran pegunungan latimojong, hutan – hutan lebat dan cakrawala di kejauhan semua terlihat disini, apalagi pada sore hari, awan – awan seputih kapas begelung dan disinari mentari sore yang berwarna jingga. Sungguh pemandangan yang super indah.
            Bila anda sudah tiba sore hari di pos 7, anda dapat melanjutkan untuk menuju pos 8 atau langsung menuju puncak, namun para pendaki lebih banyak menginap dan membuat camp di pos 7, selain karena di pos 7 sumber air lebih terjamin, juga karena letak pos 7 lebih tertutupi daripada pos 8 yang berupa dataran luas yang rawan angin. Dan untuk summit attack, para pendaki lebih sering melakukannya di pagi hari.
            Perjalanan menuju Puncak Rante Mario tetap akan bertemu tanjakan demi tanjakan, namun setelah 5 menit kemudian, kita akan tiba di padang yang mengingatkan pada lembah mandalawangi di gunung pangrango, hanya saja tidak banyak ditumbuhi bunga edelweisse. Terbentang memanjang, jalur menuju puncak, dengan didominasi batu-batuan putih di kaki kita, tumbuhannya tidak lagi tinggi – tinggi, namun hanya setinggi leher orang dewasa, dan biasanya jalur menuju puncak ini lebih sering ditutupi oleh kabut dan di serbu angin yang menderu – deru.
            Lima belas menit kemudian kita bisa melihat langsung tugu triangulasi berwarna putih, dan kita telah berada di puncak tertinggi tanah Celebes.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gunung Binaiya

Wisata Alam – Gunung Binaiya – Seram – Provinsi Maluku
gunung-binaiya2Gunung Binaiya merupakan gunung  tertinggi se Provinsi Maluku. Gunung ini membentang di Pulau Seram dan masuk ke  dalam lingkup Taman Nasional Manusela yang mempunyai luas 189.000 hektar.   
Pada tahun 1972 Taman Nasional Manusela  dibagi menjadi dua daerah yakni Wae Mual seluas 17.500 hektar yang meliputi hutan dataran rendah pada bagian utara. Flora  yang hidup di area ini adalah bakau (Mangrove) dengan vegetasi sekitar rawa-rawa, hutan damar (Agathis Alba), meranti (Shorea  sp). Pada perbukitan bagian tengah adalah daerah Wae Nua seluas 20.000 hektar.      
    
Gunung Binaiya masuk  ke dalam Kabupaten Maluku Tengah. Provinsi Maluku. Untuk mengakses lokasi ini bisa dilakukan dari ibukota provinsi Maluku, Ambon, menggunakan jasa angkutan bis menuju Pelabuhan Tulehu
Setiba di Tulehu, dilanjutkan menyeberang selat dengan  menggunakan jasa speedboat menuju  Pulau Seram, tepatnya singgah di Pelabuhan Wahai, .Dari  Wahai perjalanan dilanjutkan menuju desa Kanikeh selama sekitar 6 jam. Kanikeh  merupakan desa terakhir sebelum menuju puncak Gunung Binaiya.        
gunung-binaiyaGunung Binaiya tergolong unik karena menjulang dari ketinggian 0 meter hingga 3055 meter di atas permukaan  laut. Di bagian kaki gunung, banyak terdapat sungai yang membentang seluas 6-8  meter.     
     
Gunung Binaiya  terletak di wilayah pedalaman, sehingga fasilitas dan akomodasi untuk wisatawan  nyaris tidak ada, kecuali hanya beberapa rumah adat penduduk yang disediakan untuk  menginap para pendaki gunung yang bermalam. [traveloid.com]


Jalur Pendakian Gunung Binaiya

Jalur Pendakian - Gunung Binaiya (3.055 mdpl) merupakan gunung tertinggi di wilayah Kepulauan Maluku. Termasuk ke dalam wilayah Taman Nasional Manusela. Sebuah Taman Naional yang cukup unik karena membentang dari ketinggian 0 - 3055 mdpl di Pulau Seram.

Musim hujan di daerah ini biasanya terjadi sepanjang bulan November - April. Sehingga pendakian sebaiknya dilakukan pada bulan Mei - Oktober yang merupakan musim kemarau. Persiapan yang sangat matang juga wajib dilakukan mengingat perjalanan ke puncak binaiya memakan waktu sekitar 10 - 15 hari.

Jalur Menuju Puncak Binaiya

Ambon - Pelabuhan Wahai (P. Seram)
Dari Ambon pendaki bisa naik bis jurusan pelabuhan Tulehu. Kemudian dilanjutkan dengan menyeberang ke Pulau Seram menggunakan speed boat atau kapal Ferri. Penyeberangan menggunakan kapal hanya tersedia dua kali dalam seminggu.

Wahai - Desa Kanikeh
Untuk menuju desa Kanikeh kita bisa menggunakan 2 jalur yaitu jalur utara dan jalur selatan. Jika kita melalui jalur utara, kita dapat menjangkau desa Kanikeh selama 2 hari perjalanan dengan melewati 2 desa yaitu Desa Huaulu, dan Desa Roho. Untuk jalur selatan kita juga akan melewati 2 desa yaitu Desa Moso, dan Desa Manusela. Kedua jalur tersebut akan membawa kita ke Desa Kanikeh yang merupakan pertemuan jalur utara dan jalur selatan dan merupakan desa terakhir sebelum puncak Binaiya.

Pendkai akan melewati sungai besar berukuran 6 m dengan arus deras. Pendaki akan melewati hutan hujan tropis yang sangat lebat dengan pepohonan yang tinggi. Sinar matahari nyaris tak sampai. Setelah Menyeberangi sungai pendaki akan menemukan sebuah shelter yang bisa digunakan untuk beristirahat. Kemudian pendaki akan melewati lintasan yang naik turun dan juga akan menerabas akar akar yang bergelimpangan. Dua jam dari situ pendaki akan sampai di Desa Kanikeh.
Sungai sebelum desa Kanikeh (http://chaknaz09.wordpress.com/)
Desa Kanikeh - Waiansela
Desa Kanikeh merupakan desa terakhir sebelum kita mencapai Puncak Binaiya. Disini pendaki wajib mengadakan upacara adat sebagai syarat untuk mendaki gunung Binaiya. Menurut salah satu sumber, mulai akhir 2010 untuk mendaki gunung ini kita perlu mengeluarkan kocek lebih. Tetapi kami belum mendapat kejelasanya. silahkan baca artikelnya disini.

Perjalanan menuju Waiansela kurang lebih memakan waktu 4-6 jam, melewati jalur yang berlumpur dan akan menemukan beberapa anak sungai.

Waiansela - Waihuhu - Waipuku
Dari Waiansela pendaki akan menuju Waihuhu yang memakan waktu 4-6 jam juga. Di jalur ini pendaki akan menemukan banyak bekas jebakan hewan dan pepohonan berukuran raksasa yang diselimuti lumut dan berbagai jenis anggrek.
hutan hujan tropis yang harus dilewati (http://delapanpenjuru.wordpress.com)
Setelah beristirahat di Waihuhu, pendaki akan menuju pos terakhir sebelum mencapai Puncak Binaiya, yaitu Waipuku. Lintasan menuju Waipuku sangat terjal dengan bebatuan yang mudah longsor. Tumbuhan disekitar Waipuku didominasi oleh tumbuhan kerdil.

Waipuku - Puncak Binaiya
Pos terakhir ini berada pada daerah yang cukup terbuka sehingga angin bertiup cukup kencang. Dari sini Puncak Binaiya sudah terlihat dan tidak terlalu jauh. Kurang lebih 1 jam perjalanan untuk mencapai puncak dengan medan yang sangat terjal.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS